Tajuk “antara kebangkitan dan kematian” tersebut bukan bermaksud menakut-nakuti terhadap hal gaib, tapi mengajak kita semua meneropong lebih jauh keberadaan negara kita saat ini, Indonesia. Hari ini, jumat (20/5), seakan telah menjadi sebuah budaya kita memperingati kembali Hari Kebangkitan Nasional. Soekarno pernah bertutur “jangan sekali-kali melupakan sejarah (jas merah)”. Sebab melalui sejarahlah kita akan mengenal identitas dan jati diri kita. Melalui penggalan penuturan soekarno tersebut kita coba menoleh ke belakang sejenak.
.
Menurut catatan sejarah, di era sebelum kemerdekaan tepatnya awal tahun 1990 kita bisa melihat betapa tingginya semangat para pejuang kita saat itu . Terbukti munculnya berbagai organisasi organisasi pergerakaan nasional seperti Budi Utomo, Serikat Islam, Taman Siswa, Muhammadiyah , dan masih banyak lagi yang ke semuanya merupakan potret Kebangkitan Nasional Indonesia saat itu. Namun sedikit banyakorganisasi-organisasi saat itu masih berciri etno- nasionalis/kedaerahan. Meski di kalangan cendekiawan kita masih terdapat polemik mengenai pelopor kebangkitan nasional. Namun berdasarkan hasil kesepakatan bahwa Budi utomo lah pelopor kebangkitan nasional yang telah merpersatukan rakyat tidak hanya kalangan elit (wong gede) atau kalangan intelektual saja, tapi juga merangkul kalangan bawah(wong cilik). Sehingga hari lahirnya Budi Utomo(20/5) dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Singkatnya awal kebangkitan nasional Indonesia dimulai dari Budi Utomo( menurut catatan sejarah). Yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana kebangkitan nasional selanjutnya?
.
Dua puluh tahun setelah Budi Utomo berdiri, ada momen yang tak kalah pentingnya yakni tepatnya 28 oktober 1928 ketika kongres pemuda pertama diadakan dan beberapa bulan kemudian juga kongres yang kedua. Dari hasil kongres tersebut lahirlah sumpah pemuda yang mampu mempersatukan seluruh pemuda-pemudi nusantara yakni dengan Bahasa Indonesa sebagai Bahasa Persatuan. Dengan itu rakyat Indonesia tidak lagi berjuang secara kedaerahan akan tetapi bersatu secara kebangsaan. Disini rakyat Indonesa mulai berpikir “ satu lidih jikalau dibengkokkan akan mudah patah tetapi jikalau berpuluh-puluh, atau beratus-ratus akan tetap kokoh dan kuat “.
Dua puluh tahun setelah Budi Utomo berdiri, ada momen yang tak kalah pentingnya yakni tepatnya 28 oktober 1928 ketika kongres pemuda pertama diadakan dan beberapa bulan kemudian juga kongres yang kedua. Dari hasil kongres tersebut lahirlah sumpah pemuda yang mampu mempersatukan seluruh pemuda-pemudi nusantara yakni dengan Bahasa Indonesa sebagai Bahasa Persatuan. Dengan itu rakyat Indonesia tidak lagi berjuang secara kedaerahan akan tetapi bersatu secara kebangsaan. Disini rakyat Indonesa mulai berpikir “ satu lidih jikalau dibengkokkan akan mudah patah tetapi jikalau berpuluh-puluh, atau beratus-ratus akan tetap kokoh dan kuat “.
.
Alhasil, semangat yang terus mereka perjuangkan membuahkan hasil yang mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaannya (17/8/ 45). Dan Ir. Soekarno dan Drs. moh. Hatta sebagai proklamator yang kemudian diangkat menjadi presiden dan wakil presiden kita yang pertama. Merdeka bukan berarti negara kita terbebas dari berbagai ancaman, bahkan setelah kemerdekaan lah carut marut kebangkitan nasional diuji . Ada segelitir pertanyaan dibenak kita, bagaimana makna kebangkitan di era presiden Soekarno? Ternyata semangat untuk terus bangkit masih membakar jiwa-jiwa rakyat kita saat itu. Misalnya saja ketika itu terjadi konstelasi-konstelasi politik dan adanya agresi militer yang dilancarkan Belanda tidak menyurutkan semangat pejuang-pejuang kita untuk bangkit ..bangkit..dan bangkit.
.
.
Lain halnya di era presiden soeharto yang biasa dikenal ORDE BARU. Sosok yang tak asing dimata kita dimana selama kurang lebih 30 tahun menjabat dengan gaya diktator militannya. Bagaimana tidak? Pemerintah sangat menutup ruang untuk publik. Ini seakan hak asasi manusia kita di cabut. Menurut hemat saya, bisa dibilang era ini adalah awal Era Kematian Nasional pasca kemerdekaan. Ironis… !Kini era reformasi multidimensi, menurut seorang kawan bahwa “Indonesia saat ini berada diambang antara kebangkitan dan kematian, setelah terpuruk diterjang krisis moneter tahun 1998 lalu, kita memulai dari nol lagi”.ujarnya. Mungkin kata kawan tadi ada benarnya juga.
.
Tiga belas tahun sudah kita berjalan, tepat di Hari Kebangkitan Nasional ini. Dalam kacamata pribadi, tidak salah jika tahun ini dikatakan sebagai "the lowest point" dari kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Lihat saja, berbagai hal (dengan tidak mengesampingkan hal-hal lain yang positif /maju) dari hampir semua bidang di negara kita banyak mengalami kemunduran. Dulu kita pernah swasembada pangan tahun '84/'85, tapi kini kita harus impor beras. Kita juga impor minyak ikan dari Jepang, begitu juga kencur dan kunyit dari India. Dulu kita pernah berjaya dibidang pendidikan dengan "mengekspor" guru ke Malaysia, kini negeri jiran itu jauh lebih maju ketimbang kita, bahkan sekolahnya lebih ternama ketimbang sekolah-sekolah di negara kita, Indonesia. Titik terendah yang dimaksud disini adalah titik dimana sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tidak mengenal siapa dirinya, siapa Indonesia itu? Seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Untuk mengenali diri dan siapa Indonesia itu kita bisa mengenalnya melalui sejarah. Karena hanya dengan melalui sejarah jati diri, identitas dan rasa nasionalisme dapat dibangun kembali. Ciri lain dari masyarakat kita adalah memudarnya kepekaan sosial dan "keutamaan budi" (Budi Utomo) yang seharusnya menjadi ciri dari bangsa Indonesia. (Terlepas dari adanya kontroversi sejarah mengenai hal tersebut).
.
Beberapa hal yang menjadi pemicu semangat justru malah dipendam dalam-dalam dan tidak dimunculkan ke permukaan. Beberapa ilmuwan kita yang jaya di negeri orang misalnya, menjadi penemu planet baru di luar galaksi(bidang sains). Selain itu,seorang anak penjual rokok kaki lima di Bekasi juga menjadi juara catur dunia tahun 2007 di Yunani, beberapa siswa terbaik kita juga menjadi juara olimpiade fisika, olahraga kita juga lebih hebat dengan hadirnya beberapa atlet muda berbakat yang menjuarai beberapa cabang olahraga baik di tingkat Asia maupun Dunia. Tetapi lagi-lagi mereka tidak punya arti apa-apa di Negara kita, Indonesia. Bahkan fasilitas penunjang mereka seperti laboratorium, belum menjadi prioritas utama pemerintah. Kebanyakan yang ada belum memenuhi standar kelayakan seperti halnya laboratorium di beberapa perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara dll. Padahal kita semua tahu laboratorium merupakan salah satu aspek penunjang bagi pengembangan keilmuan/keterampilan mereka. Itu hanya beberapa potret dari sekian banyak orang di ibu pertiwi kita. Seharusnya semua itu menjadi inspirasi dan motivasi untuk bisa maju lebih baik. Namun, lagi-lagi ini hanya menjadi penghias dari kehidupan bangsa kita saja. Inikah yang disebut masa transisi antara kebangkitan dan kematian?
Tepat di Hari Kebangkitan Nasional ini. Ada pertanyaan yang tak kunjung terjawab, apa yang semestinya kita benahi pada masa sekarang ini?Kebangkitan Nasional era kini adalah bukan dengan berperang atau mengangkat bambu runcing, tetapi bangkit bersama-sama untuk mengisi kemerdekaan dengan berlandaskan pada kesadaran sejarah. Kita harus ingat pada akar kita. Atau kita harus ingat pada sumbernya! Dulu kita bersatu untuk merdeka, itulah maknanya! Untuk apa kita sekarang? Karena itu lah, sejarah sebagai sarana utama dalam menumbuhkan jati diri dan identitas bangsa menjadi penting artinya. Kesadaran Sejarah dapat diperoleh (salah satunya secara dominan) adalah melalui pendidikan sejarah di sekolah.
Namun, ternyata mata pelajaran sejarah malah dikeluarkan dari syarat kelulusan sekolah menengah atas (SMA) dalam Ujian Akhir Nasional (UAN). Artinya mata pelajaran sejarah tidak di–UAN–kan lagi. Sebelumnya sejarah dikurangi jam pelajarannya, disatukan dengan mata pelajaran lain menjadi PKN-S (Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah), kemudian tahun ini dihilangkan dari UAN. Apakah tahun depan akan dihilangkan dari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah? Atau bahkan akan sama sekali dihapuskan dari kehidupan kita?
Dalam memandang kasus ini, banyak sekali interpretasi. Sejarah tidak penting lah, atau bisa jadi tidak dibutuhkan lagi seiring masuknya modernisasi. Menjadi pelajaran formalitas saja dan tidak jauh beda sebagai mata pelajaran pelengkap. Pelajaran hafalan yang membosankan dan tidak gaul. Yang paling menakutkan adalah "masuk jurusan sejarah berarti bunuh diri" karena katanya masa depan suram. Jas Merah sering diplesetkan menjadi "jangan sekali-kali masuk sejarah". Ironis! Mungkin karena trend dalam mengambil kuliah dan pekerjaan saat ini adalah IT/ Informatika/komunikasi yang menduduki nomor wahid incaran anak muda, kedua ekonomi, dll. Sejarah sama sekali tidak memiliki tempat di hati anak muda, apalagi dalam hal lapangan pekerjaan tidak ada perusahaan yang menempatkan lulusan sejarah diperusahaannya. Bagi yang kuliah di pendidikan sejarah dia harus bangga dengan menjadi "pahlawan tanpa tanda jasa," atau lebih memilih "murtad" dari bidangnya dengan bekerja sebagai wartawan, karyawan swasta, politikus, selebritis, dan musisi. Itupun hanya segelintir orang yang berhasil. Karena tidak banyak perusahaan yang "rela" menerimanya. Bagi yang kuliah di sejarah murni, juga demikian. Ada pepatah: "tidak ada sejarawan yang jadi konglomerat!" :"(
Budaya luar/ modernisasi merupakan kenyataan yang harus dihadapi, dipelajari dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun jujur saja, modernisasi membuat kita lupa diri, membuat kita pamrih, dan memandang materi adalah segala-galanya didunia ini. Kita tidak memiliki rasa IKHLAS terhadap diri kita dan orang lain. (Ikhlas diibaratkan -maaf- seperti kita buang air). Akibatnya, kita cenderung berjalan searah, yaitu dengan melupakan tradisi dan kearifan lokal kita. Kita selalu mengedepankan/ mengagungkan masa kini, dan melupakan/ menyepelekan masa lalu. Kita lebih suka mendalami era globalisasi dengan segala dampaknya ketimbang mempelajari dan memahami kondisi lokal kita yang padahal jauh lebih bermanfaat dalam mengenal keberagaman dari bangsa ini sebagai potensi pembangunan di era go global ini. Kita lebih suka menjual kekayaan kita daripada memanfaatkannya. Itulah yang kita sebut sebagai Tidak Adanya Kemampuan Integrasi Kontekstual. Yaitu, tidak adanya pemahaman, penghargaan dan pengertian yang menyeluruh terhadap masa lalu dan masa kini, terhadap tradisi dan modern, terhadap lokal dan global.
Sementara itu prioritas pembangunan lebih banyak ke arah fisik. Bangun mall, bangun gedung bertingkat untuk apartemen, rumah susun, bangun jalan raya, pengelolaan sampah, penanganan bencana banjir, dll., yang paling besar adalah bayar hutang luar negeri, dll. Kita sibuk membangun badannya, tapi kita melupakan pembangunan jiwa-nya. Maka kita mendapatkan mayoritas anak muda yang rapuh, mudah terombang ambing dan cenderung berjalan searah dalam memandang kehidupan. Akibatnya mudah dimanfaatkan oleh siapapun yang memiliki kepentingan, diadu domba dan diperdaya untuk kepentingan orang/kelompok/bangsa/negara tertentu.
Kita semestinya introspeksi, karena untuk kuliah S3 Sastra Indonesia saja kita hanya bisa mengambilnya di Belanda. Mungkin juga nanti, ketika kita akan belajar gamelan, karawitan, agklung, wayang, bahasa daerah, arsitektur rumah tradisional, dll kita harus menempuhnya ke Eropa. Karena lebih banyak anak-anak muda/ orang tua di Eropa yang belajar seni Sunda dan Jawa. Bahkan, banyak diantara mereka yang menguasai tarian daerah, bahasa daerah dan konservasi tradisi serta kearifan lokal kita. Tetapi sungguh ironis karena tidak banyak kaum muda Indonesia yang tertarik mempelajarinya. Mereka lebih suka Play Station, IT dan budaya modern lainnya. Salah satu contoh konkret adalah berdasarkan laporan Balitbang Depbudpar, dari 700 bahasa daerah yang kita punya, sisanya tinggal 300-an bahasa. Hal ini mungkin saja terjadi karena banyak kaum muda kita yang lebih memilih bahasa Inggris, Belanda, Jepang, dll. Mereka lupa asalnya mereka. Mereka lupakan tradisinya.
Bukan hanya di bidang pendidikan saja keterpurukan negeri ini. Tapi juga di berbagai aspek kehidupan kondisi negeri ini masih berada pada taraf mengenaskan. Coba amati di bidang ekonomi. Harga BBM yang melambung tinggi mengakibatkan kian terpuruknya perekonomian negeri ini. Meminjam penggalan lagu Iwan Fals “BBM melambung tinggi susu tak terbeli tak terbeli, orang pintar tarik subsidi tapi bayi kurang gizi”. Bahkan di negeri yang katanya zamrud khatulistiwa ditanami apa pun tumbuh subur, ternyata busung lapar menjadi sebuah tren. Meski kata para pejabat yang malu daerahnya ketahuan ada busung lapar, berusaha mengganti istilahnya dengan salah pola makan. Huh... jangankan mengatur pola makan, sedangkan apa yang dimakan aja nggak ada.
Dalam buku karangannya An-Nahdhoh yang diterjemahkan menjadi Falsafah Kebangkitan, Ustadz Hafidz Shalih berpandangan bahwa “Bangkit itu berpindah atau berubahnya sebuah umat, bangsa, atau individu dari suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik”. Lalu pertanyaan yang esensial pun muncul, apakah saat ini terjadi seperti yang dikatakan oleh Ustadz tersebut, atau sebaliknya tidak? Apa yang seharusnya dilakukan dan dibenahi oleh negara kita saat ini?
Tepat di Hari Kebangkitan Nasional ini. Ada pertanyaan yang tak kunjung terjawab, apa yang semestinya kita benahi pada masa sekarang ini?Kebangkitan Nasional era kini adalah bukan dengan berperang atau mengangkat bambu runcing, tetapi bangkit bersama-sama untuk mengisi kemerdekaan dengan berlandaskan pada kesadaran sejarah. Kita harus ingat pada akar kita. Atau kita harus ingat pada sumbernya! Dulu kita bersatu untuk merdeka, itulah maknanya! Untuk apa kita sekarang? Karena itu lah, sejarah sebagai sarana utama dalam menumbuhkan jati diri dan identitas bangsa menjadi penting artinya. Kesadaran Sejarah dapat diperoleh (salah satunya secara dominan) adalah melalui pendidikan sejarah di sekolah.
Namun, ternyata mata pelajaran sejarah malah dikeluarkan dari syarat kelulusan sekolah menengah atas (SMA) dalam Ujian Akhir Nasional (UAN). Artinya mata pelajaran sejarah tidak di–UAN–kan lagi. Sebelumnya sejarah dikurangi jam pelajarannya, disatukan dengan mata pelajaran lain menjadi PKN-S (Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah), kemudian tahun ini dihilangkan dari UAN. Apakah tahun depan akan dihilangkan dari mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah? Atau bahkan akan sama sekali dihapuskan dari kehidupan kita?
Dalam memandang kasus ini, banyak sekali interpretasi. Sejarah tidak penting lah, atau bisa jadi tidak dibutuhkan lagi seiring masuknya modernisasi. Menjadi pelajaran formalitas saja dan tidak jauh beda sebagai mata pelajaran pelengkap. Pelajaran hafalan yang membosankan dan tidak gaul. Yang paling menakutkan adalah "masuk jurusan sejarah berarti bunuh diri" karena katanya masa depan suram. Jas Merah sering diplesetkan menjadi "jangan sekali-kali masuk sejarah". Ironis! Mungkin karena trend dalam mengambil kuliah dan pekerjaan saat ini adalah IT/ Informatika/komunikasi yang menduduki nomor wahid incaran anak muda, kedua ekonomi, dll. Sejarah sama sekali tidak memiliki tempat di hati anak muda, apalagi dalam hal lapangan pekerjaan tidak ada perusahaan yang menempatkan lulusan sejarah diperusahaannya. Bagi yang kuliah di pendidikan sejarah dia harus bangga dengan menjadi "pahlawan tanpa tanda jasa," atau lebih memilih "murtad" dari bidangnya dengan bekerja sebagai wartawan, karyawan swasta, politikus, selebritis, dan musisi. Itupun hanya segelintir orang yang berhasil. Karena tidak banyak perusahaan yang "rela" menerimanya. Bagi yang kuliah di sejarah murni, juga demikian. Ada pepatah: "tidak ada sejarawan yang jadi konglomerat!" :"(
Budaya luar/ modernisasi merupakan kenyataan yang harus dihadapi, dipelajari dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun jujur saja, modernisasi membuat kita lupa diri, membuat kita pamrih, dan memandang materi adalah segala-galanya didunia ini. Kita tidak memiliki rasa IKHLAS terhadap diri kita dan orang lain. (Ikhlas diibaratkan -maaf- seperti kita buang air). Akibatnya, kita cenderung berjalan searah, yaitu dengan melupakan tradisi dan kearifan lokal kita. Kita selalu mengedepankan/ mengagungkan masa kini, dan melupakan/ menyepelekan masa lalu. Kita lebih suka mendalami era globalisasi dengan segala dampaknya ketimbang mempelajari dan memahami kondisi lokal kita yang padahal jauh lebih bermanfaat dalam mengenal keberagaman dari bangsa ini sebagai potensi pembangunan di era go global ini. Kita lebih suka menjual kekayaan kita daripada memanfaatkannya. Itulah yang kita sebut sebagai Tidak Adanya Kemampuan Integrasi Kontekstual. Yaitu, tidak adanya pemahaman, penghargaan dan pengertian yang menyeluruh terhadap masa lalu dan masa kini, terhadap tradisi dan modern, terhadap lokal dan global.
Sementara itu prioritas pembangunan lebih banyak ke arah fisik. Bangun mall, bangun gedung bertingkat untuk apartemen, rumah susun, bangun jalan raya, pengelolaan sampah, penanganan bencana banjir, dll., yang paling besar adalah bayar hutang luar negeri, dll. Kita sibuk membangun badannya, tapi kita melupakan pembangunan jiwa-nya. Maka kita mendapatkan mayoritas anak muda yang rapuh, mudah terombang ambing dan cenderung berjalan searah dalam memandang kehidupan. Akibatnya mudah dimanfaatkan oleh siapapun yang memiliki kepentingan, diadu domba dan diperdaya untuk kepentingan orang/kelompok/bangsa/negara tertentu.
Kita semestinya introspeksi, karena untuk kuliah S3 Sastra Indonesia saja kita hanya bisa mengambilnya di Belanda. Mungkin juga nanti, ketika kita akan belajar gamelan, karawitan, agklung, wayang, bahasa daerah, arsitektur rumah tradisional, dll kita harus menempuhnya ke Eropa. Karena lebih banyak anak-anak muda/ orang tua di Eropa yang belajar seni Sunda dan Jawa. Bahkan, banyak diantara mereka yang menguasai tarian daerah, bahasa daerah dan konservasi tradisi serta kearifan lokal kita. Tetapi sungguh ironis karena tidak banyak kaum muda Indonesia yang tertarik mempelajarinya. Mereka lebih suka Play Station, IT dan budaya modern lainnya. Salah satu contoh konkret adalah berdasarkan laporan Balitbang Depbudpar, dari 700 bahasa daerah yang kita punya, sisanya tinggal 300-an bahasa. Hal ini mungkin saja terjadi karena banyak kaum muda kita yang lebih memilih bahasa Inggris, Belanda, Jepang, dll. Mereka lupa asalnya mereka. Mereka lupakan tradisinya.
Bukan hanya di bidang pendidikan saja keterpurukan negeri ini. Tapi juga di berbagai aspek kehidupan kondisi negeri ini masih berada pada taraf mengenaskan. Coba amati di bidang ekonomi. Harga BBM yang melambung tinggi mengakibatkan kian terpuruknya perekonomian negeri ini. Meminjam penggalan lagu Iwan Fals “BBM melambung tinggi susu tak terbeli tak terbeli, orang pintar tarik subsidi tapi bayi kurang gizi”. Bahkan di negeri yang katanya zamrud khatulistiwa ditanami apa pun tumbuh subur, ternyata busung lapar menjadi sebuah tren. Meski kata para pejabat yang malu daerahnya ketahuan ada busung lapar, berusaha mengganti istilahnya dengan salah pola makan. Huh... jangankan mengatur pola makan, sedangkan apa yang dimakan aja nggak ada.
Dalam buku karangannya An-Nahdhoh yang diterjemahkan menjadi Falsafah Kebangkitan, Ustadz Hafidz Shalih berpandangan bahwa “Bangkit itu berpindah atau berubahnya sebuah umat, bangsa, atau individu dari suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik”. Lalu pertanyaan yang esensial pun muncul, apakah saat ini terjadi seperti yang dikatakan oleh Ustadz tersebut, atau sebaliknya tidak? Apa yang seharusnya dilakukan dan dibenahi oleh negara kita saat ini?
Reinterpretasi konteks sebuah keharusan
Berdasarkan permasalahan di atas, seharusnya kita mencari alternatif solusi. Permasalahan-permasalahan tersebut sepertinya membuat kita ciut nyali. Padahal jadikan itu sebagai fakta saja. Atau jadikan sebagai tantangan untuk bangkit. Bukan sebagai "death”. Pertama yang paling penting adalah bahwa harus ada Reinterpretasi Konteks terhadap kehidupan bermasyarakat kita. Bahwa kebangkitan nasional era kini berbeda dengan era dimana Budi Utomo berdiri. Kalau dulu diimplementasikan dengan berjuang mengangkat senjata dan bambu runcing yang berciri etno-nasionalis, kalau kini seharusnya diisi dengan pembangunan jiwa dan berjuang melawan kebodohan yang lebih relevan dan nasionalis.
Lebih spesifiknya, ada beberapa solusi seperti Pendidikan Berbasis Karakter yang baru saja diprogramkan DEPDIKNAS. Namun juga sekiranya pemerintah lebih mengejawantakan pendidikan sejarah agar masyarakat bisa mengenal jati diri dan identitas diri, karena hemat saya, tak mungkin kita bisa membangun karakter atau moral yang optimal tanpa belajar dari orang-orang terdahulu kita (founding father). Seperti yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Untuk mengenali diri dan siapa Indonesia itu kita bisa mengenalnya melalui sejarah. Karena hanya dengan melalui sejarah jati diri, identitas dan rasa nasionalisme dapat dibangun kembali. Bila perlu bagi yang memiliki karya dibidang ini harus diberi penghargaan, serta menyangkut fasilitas-fasilitas laboratorium dan sekolah lanjutan seperti jurusan sejarah S3 doktoral mesti dibangun di negara kita, Indonesia. Di sisi lain pemerintah juga harus menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi lulusan pendidikan sejarah dan sejarah tulennya. Artinya bahwa ini merupakan bentuk fasilitas untuk masyarakat agar tercapai pemerataan profesi kerja sehingga dapat mengurangi angka pengangguran.
Selain itu, kita harus lebih menghargai ilmuwan-ilmuwan kita jangan sampai mereka semua hanya menjadi penghias negeri ini. Bila perlu negara kita harus mendatangkan kembali ilmuwan-ilmuwan kita yang jaya di luar negeri sana untuk bekerja di Indonesia. Namun pemerintah kita harus juga menfasilitasi kebutuhan esensial mereka seperti laboratorium.
Kemudian untuk menyeimbangi arus modernisasi kta harus bisa teknologi modern, tetapi juga harus mampu bermain gamelan dan membuat rumah tradisional kita. Kita juga harus pintar berbahasa asing agar kita tidak ketinggalan dan dibodohi orang, tapi kita juga harus bisa bahasa daerah dan tradisi lokal kita. Kita maniak R&B, tanggo dance, night-club tapi kita juga bisa, sayang dan peduli terhadap tarian tradisional kita. Kita harus menciptakan kreasi yang mendunia tetapi jangan lupa Indonesia!
Bangsa ini sudah terlalu letih untuk menyelesaikan masalahnya yang bejibun. Kita semua berharap jangan sampai masalah terus bertambah yang akhirnya hanya akan membebani generasi mendatang. 104 tahun Kebangkitan Nasional bisa kita jadikan sebuah gerakan rekonsiliasi nasional, reinterpretasi konteks, ajang introspeksi, kontemplasi dan evaluasi diri untuk selalu “bangkit” secara definitif kalau kita tidak ingin makna hari kebangkitan nasional berubah menjadi hari transisi nasional bahkan hari kematian nasional yang hanya sebagai serimonial saja . Siapa kita dan siapakah Indonesia? Untuk itu saatnya kita proyeksikan 104 tahun ke depan kehidupan berbangsa dan bernegara kita bersama-sama, antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh komponen bangsa.
Kita harus ikhlas dan bangkit demi Merah – Putih, Indonesia Jaya! MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA!(***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar