Format Gerakan Mahasiswa: Dari Unjuk Rasa Menuju Unjuk Rasio
 |
| Demonstrasi menolak kenaikan BBM oleh FORSUB Kendari |
Ada apa dengan gerakan mahasiswa dewasa ini?
Barang kali pertanyaan tersebut yang pantas untuk dikaji. Kalau kita cermati selepas reformasi mei 1998, aksi gerakan turun ke jalan (demo) yang diperagakan oleh sejumlah elemen bangsa terutama mahasiswa mulai kehilangan ruh esensinya.
Apa yang menjadi tuntutan parlemen jalanan tersebut untuk memperbaiki nasib rakyat seakan tak pernah digubris. Mengapa demikian? Analisis saya menunjukkan bahwa Gerakan Mahasiswa masih labil dan prematur akan hasil berpikir. Artinya, konsep yang ditawarkan mahasiswa tidak matang dan siap pakai. Mahasiswa hanya bisa menjatuhkan, namun tidak memberi solusi lebih baik setelahnya.
Hanya memberi giliran saja pada rezim satu kepada rezim berikutnya untuk bercokol. Misalnya saja GM 78, mahasiswa mewacanakan penolakan pencalonan kembali Soeharto menjadi presiden, namun mereka tidak menyinggung mengenai sistem yang dibangun oleh Soeharto. Kasus 98 juga menunjukkan kegamangan GM yang gagal menciptakan iklim stabil bagi stabilitas negara.
Selain itu, beberapa elemen masyarakat mensinyalir, gerakan demonstrasi kerap oleh aksi penunggangan. Ironisnya unjuk rasa turun ke jalan kerap kali membuat macet para pengguna jalan. Mulai dari sopir angkutan umum, para penjual dipinggir jalan, pegawai kantoran dan kelompok masyarakat lainnya yang sempat melintas di jalan raya, tempat unjuk rasa tersebut.
Bukan mengenai kemacetan yang dipersoalkan, tetapi lebih keimplikasinya terhadap masyarakat kebanyakan. Bagaimana tidak? Ketika para pendemo memblokade jalan otomatis menimbulkan kemacetan sehingga kendaraan-kendaraan terpaksa berjalan merayap lambat dan tersendat memenuhi setoran.
Apalagi aksi tersebut kerap kali berujung tindakan anarkis antara para pendemo dengan aparat keamanan, seperti yang terjadi baru-baru ini demo mengenai masalah kepegawaian di gedung DPRD Konut, demo trayek angkutan umum di Kota Kendari yang menelantarkan penumpang, demo pegawai walikota yang menuntut pembebasan dua tersangka korupsi pembebasan lahan kantor gubernur yang merusak pintu gerbang kantor Kejati Sultra, dan demo memeringati Hari Pancasila yang berujung penganiayaan seorang anggota Sat-pol PP Kota Kendari. Di terima atau tidak, tentu saja hal semacam itu menyusahkan rakyat kebanyakan.
Dalam banyak contoh, demo anarkis dalam penyampaian aspirasi akan lebih banyak dampak negatif ketimbang positifnya. Diterima dan dilaksanakan suatu aspirasi tentu bukan karena aksi anarkis yang terjadi, tetapi lebih melihat pada substansi dan pertimbangan dari tuntutan para pendemo.Bila berharap demo anarkis akan mampu mengubah sikap penegak hukum, simpan saja harapan itu. Sebab opini yang sengaja diciptakan tersebut tidak akan menggoyahkan sikap penegak hukum, apalagi akanmengabaikan fakta dan bukti-bukti yang dijadikan landasan melakukan penyelidikan dan menetapkan seorang menjadi tersangka.( kendari pos, 6 juni 2011, hal 4)
Kalau kebanyakan masyarakat merasa terusik, lalu bagaimana dengan pemerintah? Realitasnya pemerintah atau rezim hari ini mulai memandang miring para peserta aksi demonstrasi yang notabene memiliki agenda mulia tersebut. Akibatnya citra lembaga atau nama baik mahasiswa menjadi buruk.
Format baru
Satu pertanyaan esensial dari fenomena tersebut, adakah sebuah konsep, paradigma, atau aksi lain yang lebih proporsional dan mampu menjawab permasalahan tersebut? Tentu saja ada.Yaitu dengan menumbuh-kembangkan kegiatan intelektual:menulis. Ironis memang format seperti ini ternyata mulai terkikis di dunia perguruan tinggi (PT) bahkan nyaris menyeluruh di tanah air. “Seolah mati suri”.
Padahal format baru ini bagi gerakan mahasiswa mulai terasa urgensitasnya (perlu). Mengingat kritik dan aspirasi yang dilayangkan melalui aksi turun langsung ke jalan mulai dianggap angin lalu oleh rezim yang tengah berkuasa dewasa ini.
Apalagi jika kita meneropong lebih jauh dalam skala nasional, agaknya pemerintahan SBY cukup sensitif dan gerah dengan aksi parlemen jalanan. Kita tentu masih ingat, bagaimana aksi turun ke jalan saat memeringati 100 hari pertama kinerja pemerintahan membuat presiden asal Pacitan itu curhat soal kerbau yang dibawa para pendemo. Apa yang terjadi kemudian? Tuntutan para pendemo justru tak dihiraukan bahkan pula tak ditanggapi. Malah soal kerbau yang dinamakan “Si Buya” menjadi sorotan tajam presiden. Rasanya ada semacam mispersepsi antara elemen massa yang mengritisi pemerintah dengan para elite menjadi sasaran demo tadi. Menyadari hal semacam ini, perubahan format atau paradigma melalui aksi menulis di media massa menemukan momentumnya.
Di sisi lain, penelitian yang baru-baru ini menyebutkan bahwa dosen yang menulis buku atau jurnal masih tergolong sedikit. Apalagi mahasiswa yang suntuk menggeluti dunia tulis-menulis mulai dari buku, ataupun artikel dalam rubric mahasiswa di media massa masih amat sedikit kuantitasnya. Padahal kalau di sadari, sesungguhnya rubric mahasiswa yang ada lebih diutamakan kalangan intelektual yang bernama mahasiswa. Kalau sudah tersedia, lho kenapa tak dimanfaatkan untuk menawarkan ide-ide dan gagasan kita. Inikan lucu!
Sejatinya, tranformasi format dari aksi turun ke jalan menuju aksi menulis di media, tidak perlu memiliki banyakmassa, uang, tenaga, bahkan dampaknya amat dirasa lebih efektif dan efisien. Aspirasi yang di sodorkan pun lebih terarah kepada siapa yang dituju, karena sebagian besar masyarakat akan tahu ketika membaca media massa serta implikasinya mampu membuka sebuah forum diskusi yang dapat mempertemukan pemerintah, LSM, aktivis, dan media untuk duduk bersama dalam satu meja. Tujuannya untuk melahirkan pernyataan sikap dari semua pihak terlebih pemerintah guna memperbaiki nasib rakyat.
Berbeda halnya ketika aksi turun ke jalan, selain menemui langsung ke yang bersangkutan, apa yang disuarakan tersendat/ dapat hilang tertelan suara bising knalpot kendaraan bahkan kerap kali berpotensi chaos (anarkis). Selain itu aksi ini tergantung liputan di media massa khususnya kanal TV. Aksi menulis melalui media massa lebih elegan, cantik, dan terhormat bagi elemen revolusioner terutama mahasiswa dewasa ini.
Bukannya aksi turun ke jalan sama sekali tidak penting, tapi keadaan saat ini jauh berbeda dengan 1998 lalu. Dengan kata lain unjuk rasa tidak lagi elegan yang lebih mengandalkan otot dan okol. Tetapi aksi menulis di media massa lebih mengutamakan rasio (ide-ide dan gagasan segar).
Seyogyanya, mahasiswa sebagai agen perubahan sosial mesti membuat movement(gerakan) yang melahirkan simpati dari khalayak. Bukannya antipati dan seolah perjuangannya tak restui oleh rakyat yang notabene nasibnya menjadi tujuan untuk diperjuangkan oleh gerakan mahasiswa.
Ini harus kita sadari bahwa amat penting untuk menghidupkan kembali tradisi menulis yang ditunjukkan melalui geliat pers mahasiswa yang berperan sebagai informasi, motivator, sosialisasi, integrasi, wahana debat dan diskusi, edukator, inspirator, provokatif dan korektor. Untuk itu sebagai mahasiswa sejati mesti menghidupkan kembali budaya menulis. Sebab Dari tulisan seorang intelektual, niscaya akan mengubah tatanan dunia yang lebih baik.
Sebuah format baru melalui menulis di media massa adalah sebuah solusi pamungkas atas permasalahan bangsa. Momentum yang tepat dan tidak salah kalau kita mencanangkan gerakan turun ke jalan beralih menuju gerakan menulis di media massa. Dari unjuk rasa menuju unjuk rasio.
Bagaimana menurut anda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar