Laman

Sabtu, 23 Juni 2012



Suara Mahasiswa, Dilema Perguruan Tinggi

“Untuk apa kuliah toh akhirnya menjadi pengangguran juga ”. Ungkapan pesimistis seperti ini sering diungkapkan masyarakat yang kini berada pada ujung traumatis. Memang realitasnya, telah terpampang dihadapan kita akan menjamurnya sarjana-sarjana yang resah mencari pekerjaan. Dengan menyaksikan fenomena tersebut, salah satu celah keterbatasan kita adalah kembali menyoroti  perguruan tinggi. Mengapa kita harus menyoroti perguruan tinggi?
Jufra Udo
(Ketua HMI Komisariat FKIP UNHALU)
Mengutip laporan Unesco, Jacquers Delors et al (1998) bahwa peran perguruan tinggi dinegara berkembang sangatlah sentral. Mengingat posisi negeri ini, pernyataan Unesco tersebut menjadi tolak ukur pihak terkait untuk kembali merekonstruksi perguruan tinggi sehingga mampu menghasilkan SDM yang berkompeten dan berdaya saing serta menjawab keresahan masyarakat terhadap parameter pengangguran yang cukup tinggi dari output yang dihasilkan perguruan tinggi. Dengan harapan, output kampus terserap didunia kerja dengan memiliki  skill terapan sehingga statistik pengangguran dapat diminimalisir.
Menurut data BPS (Agustus,2010), menunjukkan sebanyak 8,32 juta penduduk Indonesia berstatus pengangguran. Diantaranya, diploma (12,7 %) dan sarjana (11,92 %). Persentase tersebut telah memunculkan pertanyaan terhadap keberadaan perguruan tinggi. Apakah perguruan tinggi masih layak dijadikan sebagai mahkota  kecerahan masa depan oleh masyarakat? Sistem apa yang berjalan dalam perguruan tinggi sehingga melahirkan para ‘sarjana buntu’? Pertanyaan ini akan menjadi sebuah intropeksi diri lembaga perguruan tinggi yang selalu mengagungkan: “menciptakan sumber daya manusia yang berkompetensi dan berdaya saing”. Namun faktualnya, sejauh mana pengimplementasian visi-misi perguruan tinggi hari ini? Sungguh amat lucu ketika ada mahasiswa yang mengatakan bahwa “yang bernilai dalam ruang kuliah hanyalah absensi”..
Sudah saatnya pihak-pihak terkait melakukan penataan system pendidikan secara meratadalam kampus. Mengingat, pendidikan merupakan salah satu aspek pembentukan manusia agar berkarakter layaknya manusia. Sebagaimana menurut Ibnu Sina dalam karyanya As-Siyasah fit at Tarbiyah bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kearah pengembangan yang sempurna,yaitu perkembangan fisik, intelektual,dan budi pekerti. Satu kekuatiran penulis, apabila model pembelajaran hari ini sekedar menjadikan peserta didik sebagai obyek yang terus diisi tanpa transaksi  timbal balik atau pendidikan gaya bank seperti yang dikatakan seorang revolusioner pendidikan, Paulo Freire. Jika demikian, maka cepat atau lambat kita pasti akan menyaksikan karakter generasi muda  seperti  kunang-kunang tak bercahaya
Satu poin penting bagi mahasiswa, bahwa organisasi terbukti  mampu menempa mahasiswa menjadi insan bernilai plus kaitannya soft  skill. Oleh karena itu, saya sangat menaifkan mahasiswa-mahasiswa yang mengatakan bahwa “penelitian Harvard University bahwa soft skill 80 % menentukan kesuksesan seseorang dalam dunia kerja. Dengan demikian, patut kiranya mahasiswa untuk mengenyam  pendidikan organisasi. Sebab organisasi hanyalah aktivitas untuk membuang-buang waktu, dan tak memiliki faedah”. Berdasarkan disamping terus mengawasi pola pendidikan dikampus yang mencederai nilai-nilai humanis. Hingga akhirnya, kita mampu meruntuhkan  paradigma bahwa kampus sebagai ‘pabrik pengangguran” dimata publik saat ini.(***)

Telah dimuat di SKH Kendari Pos


Tidak ada komentar:

Posting Komentar