Suara
Mahasiswa, Dilema Perguruan Tinggi
“Untuk apa kuliah toh akhirnya menjadi
pengangguran juga ”. Ungkapan pesimistis seperti ini sering diungkapkan
masyarakat yang kini berada pada ujung traumatis. Memang realitasnya, telah
terpampang dihadapan kita akan menjamurnya sarjana-sarjana yang resah mencari
pekerjaan. Dengan menyaksikan fenomena tersebut, salah satu celah keterbatasan
kita adalah kembali menyoroti perguruan tinggi. Mengapa kita harus
menyoroti perguruan tinggi?
![]() |
| Jufra Udo (Ketua HMI Komisariat FKIP UNHALU) |
Mengutip laporan Unesco, Jacquers Delors et
al (1998) bahwa peran perguruan tinggi dinegara berkembang sangatlah
sentral. Mengingat posisi negeri ini, pernyataan Unesco tersebut menjadi tolak
ukur pihak terkait untuk kembali merekonstruksi perguruan tinggi sehingga mampu
menghasilkan SDM yang berkompeten dan berdaya saing serta menjawab keresahan
masyarakat terhadap parameter pengangguran yang cukup tinggi dari output yang
dihasilkan perguruan tinggi. Dengan harapan, output kampus terserap didunia
kerja dengan memiliki skill terapan sehingga statistik
pengangguran dapat diminimalisir.
Menurut data BPS (Agustus,2010), menunjukkan
sebanyak 8,32 juta penduduk Indonesia berstatus pengangguran. Diantaranya,
diploma (12,7 %) dan sarjana (11,92 %). Persentase tersebut telah memunculkan
pertanyaan terhadap keberadaan perguruan tinggi. Apakah perguruan tinggi masih
layak dijadikan sebagai mahkota kecerahan masa depan oleh
masyarakat? Sistem apa yang berjalan dalam perguruan tinggi sehingga melahirkan
para ‘sarjana buntu’? Pertanyaan ini akan menjadi sebuah intropeksi diri
lembaga perguruan tinggi yang selalu mengagungkan: “menciptakan sumber daya
manusia yang berkompetensi dan berdaya saing”. Namun faktualnya, sejauh mana
pengimplementasian visi-misi perguruan tinggi hari ini? Sungguh amat lucu ketika
ada mahasiswa yang mengatakan bahwa “yang bernilai dalam ruang kuliah
hanyalah absensi”..
Sudah saatnya pihak-pihak terkait melakukan
penataan system pendidikan secara meratadalam kampus. Mengingat, pendidikan
merupakan salah satu aspek pembentukan manusia agar berkarakter layaknya
manusia. Sebagaimana menurut Ibnu Sina dalam karyanya As-Siyasah fit at
Tarbiyah bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh
potensi yang dimiliki seseorang kearah pengembangan yang sempurna,yaitu perkembangan
fisik, intelektual,dan budi pekerti. Satu kekuatiran penulis, apabila model
pembelajaran hari ini sekedar menjadikan peserta didik sebagai obyek yang terus
diisi tanpa transaksi timbal balik atau pendidikan gaya bank
seperti yang dikatakan seorang revolusioner pendidikan, Paulo Freire. Jika
demikian, maka cepat atau lambat kita pasti akan menyaksikan karakter generasi
muda seperti kunang-kunang tak bercahaya
Satu poin penting bagi mahasiswa, bahwa
organisasi terbukti mampu menempa mahasiswa menjadi insan bernilai plus
kaitannya soft skill. Oleh karena itu, saya sangat menaifkan
mahasiswa-mahasiswa yang mengatakan bahwa “penelitian Harvard University bahwa
soft skill 80 % menentukan kesuksesan seseorang dalam dunia kerja. Dengan
demikian, patut kiranya mahasiswa untuk mengenyam pendidikan organisasi.
Sebab organisasi hanyalah aktivitas untuk membuang-buang waktu, dan
tak memiliki faedah”. Berdasarkan disamping terus mengawasi pola
pendidikan dikampus yang mencederai nilai-nilai humanis. Hingga
akhirnya, kita mampu meruntuhkan paradigma bahwa kampus sebagai ‘pabrik
pengangguran” dimata publik saat ini.(***)
Telah dimuat di SKH Kendari Pos
Telah dimuat di SKH Kendari Pos

Tidak ada komentar:
Posting Komentar