Laman

Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012



RESENSI BUKU:

IBNU TAIMIYAH VERSUS PARA FILOSOF; KARANGAN
Dr. ZAINUL KAMAL, M.A.


Sampai saat ini logika Aristoteles masih menempati posisi terbaiknya dikalangan intelektual Barat maupun Timur, termasuk di Indonesia. Sejak kitab-kitab pemikir Yunani(logika Aristoteles, red) diterjemahkan oleh Pemikir Islam dan masuk ke Dunia Islam pada abad pertama hijriah, kemudian berkembang pada abad-abad berikutnya. Dalam perkembangannya itu, terdapat pro dan kontra di internal Umat Islam. Di antara para filosof Muslim yang mempunyai perhatian besar terhadap logika Aristoteles adalah tokoh-tokoh seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Mereka menggunakan logika untuk mempertahankan eksistensi ajaran Islam dari serangan penentang Islam yang bersenjatakan Logika Aristoteles. Dalam artian mereka menggunakan sistem senjata yang sama, bahkan mereka pertajam dengan nilai-nilai islam. Sebagai senjata apologi untuk melawan musuh-musuh Islam.
Namun tidak semua pemikir Islam sependapat dengan para filosof muslim itu. Diantara mereka seperti Ulama Salaf, ahli fikih dan hadis mengharam mempelajari Logika Aristoteles, seperti Imam Syafi’i dan Ibnu Shalah. Tidak jarang kritikannya bersifat emosional dan kurang proporsional. Adapun orang yang pertama menentang dan mengkritik secara khusus ajaran Aristoteles adalah Ibnu Taimiyah.
Buku “Ibnu Taimiyah Versus Para Filosof” karangan Dr. Zainun Kamal, M.A yang sangat menarik dan penuh dengan dialektika pemikiran. Pembaca seolah diajak menjadi juri akan perdebatan, kritik-mengkritik seputar ukuran kebenaran mana yang pantas, apakah menurut Ibnu Taimiyah atau para filosof. Apa implikasi ketika argumentasi yang satu dianggap benar, dan argumentasi yang lain dianggap salah, atau bahkan kedua-duanya salah? Dalam buku ini Ibnu Taimiyah berupaya menunjukkan kerancuan logika aristoteles yang sangat diagung oleh pengikut-pengikutnya para filosof muslim, namun alih-alih hendak menunjukkan kerancuannya, argumentasinya dalam mengkritik telah membawa dan membuat para filosof menjuluki dia sebagai pelopor mazhab empirisme yang berkiblat pada epistemologi bayani. Sebuah mazhab pemikiran yang menitik fokuskan ukuran kebenaran berdasarkan pengalaman inderawi yang empiris menggunakan penalaran induksi, yakni penarikan kesimpulan yang diambil dari kasus-kasus yang khusus menuju kasus-kasus yang umum.
Kritik Ibnu Taimiyah tidak hanya tidak hanya menyangkut pada prinsip-prinsip logika dan hukum kausalitas, tetapi juga prinsip dasar logika Aristoteles, deduksi dan silogisme. Bahkan unsur pembuatan silogisme pun dikritiknya, yaitu mengenai definisi serta para filosof muslim yang terpengaruh logika Aristoteles. Dari semua macam-macam definisi, definisi analisis sempurna yang menurut Aristoteles merupakan definisi terbaik karena langsung mengarah ke hakikat sesuatu, namun tidak dengan Ibnu Taimiyah, Menurutnya definisi itu adalah definisi paling rendah dan buruk,  bahkan definisi yang dianggap oleh Aristoteles merupakan definisi yang terendah, bagi Ibnu Taimiyah terbaik, yaitu definisi nominal tak logis.
Sungguh pun demikian, respon para sarjana Muslim terhadap Aristoteles telah banyak menghasilkan buah intelektual yang mengagumkan, terbukti karya-karya besar berkaitan dengan logika telah memperkaya khazanah intelektual Islam. Logika Aristoteles merupakan Neraca bagi Seluruh Ilmu pengetahuan kata Al Ghazali, bagi Ibnu Sina  merupakan undang-undang yang menjaga akal dari kesalahan, dan membedakan antara yang betul dan yang salah, sehingga akal sehat dapat berfungsi  dengan baik. Bahkan Ibnu Rusyd dalam pengantar Kitab At-Thabi’iyat(Kitab Fisika) sebagaimana dikutip oleh Zainun Kamal,  sangat memuji Aristoteles  dengan mengatakan:

Pengarang kitab ini(logika aristoteles., red) adalah Aristoteles, filosof agung dan paling jenius, peletak pertama ilmu logika, fisika, metafisika. Ilmu-ilmu ini ditulisnya sekaligus dengan cara tersempurna, yang tidak pernah tercapai oleh filosof sebelum dan sesudahnya. Orang yang datang sesudahnya tidak mampu berbuat sesuatu melebihinya, tetapi selalu mengambil darinya. Sampai saat ini (masa Ibnu Rusyd, Red) tidak seorang pun dari para filosof yang sanggup menambahkan sesuatu yang baru, atau menemukan sesuatu yang salah dankeliru dari Aristoteles. Ini sungguh aneh dan luar biasa, mu’jizat kata ibnu Rusyd: karena semua ilmu ini (logika, fisika dan metafisika, red) telah terkumpul pada diri satu orang. Karena keistimewaannya itu, ia lebih pantas disebut sebagai seorang pribadi yang bersifat Ilahi ketimbang pribadi manusiawi.

Agar tidak penasaran, baca artikel selanjutnya dibawah ini:








Minggu, 24 Juni 2012


Ketika Cinta BerLogika







Bila aku jatuh cinta
Aku mendengar nyanyian
1000 dewa dewi cinta
Menggema dunia ~ Nidji

Berjuta rasa orang jika sedang jatuh cinta. Rasa memabukan, segalanya tampak indah, atau dada terasa berdebar-debar ketika si-dia membalas tatapan kita dengan senyuman. Apakah anda juga merasakan hal demikian ketika sedang jatuh cinta.
Lalu bagaimana jika saya katakan bahwa jatuh cinta bukan merupakan pengalaman dari hati ke hati, tapi murni reaksi kimia dalam otak. Bahwa jatuh cinta adalah tentang otak yang merilis hormon testoteron yang diikuti campuran nuerotransmitter dopamin & oksitosin. Selain itu zat feniletilamin juga ikut serta dalam parade riuh mengikuti rilis testoteron, kesemuanya proses itu menciptakan kondisi, yang dikenal dengan jatuh cinta. Rasa bahagia, dan semua tampak indah. Ya seperti lirik lagu Nidji diatas, pokoknya serba sentimentil.
Zat feniletilamin seperti juga pada saat flu, membuat wajah memerah, telapak tangan, berkeringat, nafas makin berat bahkan sedikit kesemutan. Ciri-ciri jika orang sedang jatuh cinta.
‘Waahh… jadi selama ini, perasaan hati berbunga-bunga itu hasil kerja otak? Gak romantis lagi dong?’ Umm.. secara saintifik, hasil kajian dan evidance-nya emang kayak gitu.
Saya pun tergoncang juga pada awalnya. Gimana enggak puisi-puisi selama ini yang kurangkai setiap baitnya melalui suara dalam palung hati yang paling dalam, meraciknya dengan bumbu-bumbu rindu, serta dengan jiwa roman picisan (oke, gw lebay), tak lebih dari kerja otak? WTF..
Tapi juga sekaligus, saya juga dapat sedikit ‘pencerahan’ juga setelah mendapat kebenaran dari hal ini. Jadi waktu itu, ketika saya terasa deforce berlarut-larut dengan gagalnya hubungan asmara dan mulai susah move-on. Saya mengambil jalan saintis untuk mengatasinya. Yaitu saya mulai rajin mengkonsumsi buah dan sayur (apel, jeruk, bayam, tak lupa kangkung) yang dapat memicu bertambahnya hormon testoteron dalam tubuh. Jadi ketika testoteron saya mulai melimpah, ilmiahnya saya akan kembali mudah jatuh cinta lagi. Sukses move on.. (khusus alinea ini memuat fiksi ilmiah )
Kompromi Filsafat
Meskipun saat sekarang ini segala sisi seakan telah ‘terinvasi’ oleh sains. Tetapi bukanlah filsafat jika tak mampu mengirisnya menjadi hal yang berbeda tetapi tetap equal dan egalit.
Saya mengambil contoh bunga mawar. Secara ilmiah, kita dapat menyebutkan tiap bagian penyusun bunga mawar itu. Kadar air; warna pigmen; pola mahkota bunga; kandungan unsur nitrogen; apapun itu. Tapi secara filsafat kita tak bisa mengelak jika mawar itu simply memang indah. Bagi saya keajaiban tetaplah keajaiban. Untuk beberapa moment memang filsafat tampil paling dini, meskipun sains kemudian mengukapnya lebih holistik. kondisi ini memang sudah ada dalam gen kita
Sama halnya dengan perihal ketertarikan asmara. Dalam ranah sains ketertarikan kita terhadap tipe pasangan (ini bisa homo, atau hetero  ) dibentuk oleh ‘gen’ dalam tubuh kita. Sebagian berasal bakat ‘gen’ yang diturunkan kepada kita, sebagian lagi memang karena kita berusaha mengubah asosiasi kita terhadap tipe pasangan. Ex : waktu itu saya berpikir jika gadis tidak terlalu tinggi dengan rambut panjang itu menarik oleh saya. Tetapi karena hoby nonton infotainment berita tentang Syahrini, asosiasi saya berubah. Kini saya tertarik dengan tipe perempuan dewasa dan matang seperti Olla Ramlan (#plinplan).
Menurut sains juga pada dasarnya ketertarikan kita terhadap pasangan pada warisan evolusi memang pada bentuk fisik pasangan. Ini saya setuju, tetapi tetap saja filsafat akan mendahului sains.
Jika diatas contohnya bunga mawar, mungkin kali ini uji materiilnya dengan si Penelope Cruz. Hayoo… lelaki mana yang tidak tertarik dengan perempuan sempurna seperti ini? Ah iya ini standart tipe ketertarikan dalam ‘gen’ saya yah! Varian lain dari tipe ‘gen’ pun banyak juga tentu saja.
1340383624156132499
Penelope Cruz (sumber fanpop.com) Kau begitu sempurnaa.. dimataku kau begitu indah
Nah, ketika ‘gen’ saya cocok dengan tipe Penelope Cruz tentu saja pada momentum awal filsafat lebih mendahului. Jadi tidak mungkin saat memandang wajah penelope saat itu juga saya mendudukan Penelope dalam kacamata sains. Seperti: gen orang Spanyol emang banyakan cakep, atau Penelope ini emergent, tidak mungkin saudara kandung Penelope Cruz bisa sesempurna dia karena campuran gen orangtuanya memang sempurna dan sulit mengulanginya.
Namun secara singkat filsafat, saya mengatakan jika si Penelope Cruz ini cantik, seksi, mempesona, menggairahkan, menyejukan, mee… (I was hallucinating.LOL.I’m not.LOL )
Yang mau komplain
Saya sadar sih catatan ini mungkin ada tidak tepat dalam bentuk istilah, penerangan reaksi, atau yang lainnya. Yah karena saya bikin catatan ini agak ngebut, karena belum bisa tidur juga. Jadi dipersilahkan saja untuk mengklarifikasi dan meluruskannya.
Nah, dan bagi anda yang percaya dan teguh bahwa tidak semua hal bisa diilmiahin, bahwa supranatural adalah benar-benar ada dengan merujuk jurnal-jurnal yang tidak ilmiah. Sebaiknya komplain jangan dialamatkan ke saya. Pertama, karena saya memang tidak percaya hal begituan. Dan, kedua saya juga termasuk awam soal sains, dan ilmu saya masih cetek.
Tetapi kabar gembiranya. Ada sebuah lembaga bernama JREF (James Randi Educational Foundation) yang memberikan tantangan memberikan 1 Juta Dollarkepada siapa aja yg bisa memberikan bukti ilmiah untuk kegiatan paranormal, hal-hal tentang supranatural, kejadian yg berbau mistik atau kekuatan tenaga dalam.
Lumayan banget kan? Daripada ke saya, yang gak ngasih apa-apa.
Yauda gitu aja deh, kurang lebihnya harap maklum..
Salaamm……


Ada dan BerAda






realitas itu ada di kenyataan. bukan hanya ide.
ADA belum tentu BERADA. karena ADA hnya di wilayah ide. hanya asumsi. tidak nyata. Tetapi BERADA pasti ADA.
akhirnya realitas itu benar-benar eksis. nyata. jika dia tidak nyata berarti hanya sesuatu yang “nyata” di pikiran. berarti itu hanya opini.
Keberadaan saya ini nyata karena saya eksis.empiris. bisa dipukul dan ditendang. bila saya mati, bisa saja saya ADA ketika aku dibayangkan dipikiran. tetapi KEBERADAANKU sudah lenyap.
salam mbeling.

Tuhan Nggak Ada???








Anda percaya Tuhan kan? Tentu saja, karena orang tua kita menyuruh untuk percaya sama Tuhan. Buktinya kita diajarin sholat, diajarin doa, diajarin berbuat baik, dengan iming-iming pahala dari Tuhan. Namun, pernahkah anda meragukan apa yang dikatakan orang tua anda sewaktu anda masih kecil? Jangan-jangan orang tua saya bohong, seperti ketika mereka mengatakan bahwa kancil bercakap-cakap dengan buaya sebagai dongeng pengantar tidur. Kalau anda sekarang menyadari bahwa sebenarnya kancil tidak pernah ngobrol dengan buaya sebagaimana yang dikatakan orang tua anda, mungkin itu bukan masalah yang serius, karena tidak begitu berpengaruh bagi keseharian anda sekarang ini. Tapi, bagaimana kalau yang dikatakan orang tua kita mengenai Tuhan itu juga merupakan kebohongan? Wah, masalah besar tuh. Sholat kita yang lima kali sehari, sedekah kita —walau sekedar senyum—, dan amal-amal baik lainya akan sia-sia kalau ternyata Tuhan itu tidak ada, siapa yang memberikan pahala kepada kita kalau bukan Tuhan? Mungkin tidak akan ada orang baik di dunia ini seandainya tidak ada Tuhan, karena tidak ada yang menjanjikan Surga bagi orang baik dan Neraka bagi orang jahat. Dengan demikian, kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan sangat mempengaruhi perilaku manusia.
Di dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa “Tiada Tuhan Selain Allah,” artinya Allah itu satu-satunya Tuhan, tidak ada Tuhan lain selain Allah. Namun, keterangan al-Qur’an tersebut tidak bisa dijadikan dalil bagi eksistensi Tuhan, mengapa? Karena al-Qur’an itu adalah kalam Allah, bagaimana mungkin kita mempercayai kalam Allah terlebih dahulu ketimbang eksistensi Allah itu sendiri, dan bagaimana mungkin kita mempercayai kalam Allah sementara eksistensi Allah sendiri masih diragukan. Hal ini sama anehnya ketika anda mempercayai bahwa “Mobil itu milik Pak Kusno” sementara anda sendiri belum meyakini bahwa Pak Kusno itu benar adanya. Lantas, bagaimana dengan doktrin keberadaan Tuhan yang orang tua ajarkan kepada kita, apakah ada bukti yang bisa membenarkan doktrin tersebut?
Disinilah salah satu peran penting “akal”, yakni membenarkan sekaligus membuktikan bahwa Tuhan itu benar-benar ada, bukan sekedar cerita palsu atau pun hasil imajinasi manusia belaka —sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang atheis— yang disebabkan ketidakmampuan manusia dalam menjawab fenomena yang terjadi di alam ini. Pemikir atheis, semisal Auguste Comte, menyangka bahwa dahulu kala manusia belum bisa menjelaskan mengapa gunung bisa meletus, sehingga akhirnya manusia dengan imajinasinya menciptakan Tuhan sebagai oknum dibalik meletusnya gunung tersebut. Pandangan tersebut tentu saja keliru, karena kalau memang demikian, maka setelah manusia mampu menjelaskan peristiwa gunung meletus secara ilmiah —seperti saat sekarang ini— seharusnya manusia meninggalkan Tuhan hasil imajinasi mereka tersebut. Namun kenyataannya, agama senantiasa ada di dalam kehidupan manusia dari waktu ke waktu, itu menunjukkan bahwa konsep ketuhanan masih tersimpan rapih di dalam hati sanubari manusia. Dengan mengamati alam semesta ini, manusia bisa mencapai pengetahuan terhadap Tuhan, karena sesungguhnya segala yang ada di alam ini adalah tanda-tanda (ayat-ayat) bagi eksistensi serta sifat-sifat Tuhan.
Jika kita mengamati benda-benda di sekitar kita, ternyata benda-benda tersebut tidak muncul dengan sendirinya. Misalnya kita mengamati buku, maka tidak mungkin buku itu ada jika tidak ada yang menulisnya, bangunan tidak mungkin berdiri tanpa ada orang yang membangunnya, komputer tidak mungkin ada tanpa ada orang yang merakitnya, begitu juga benda-benda lainnya. Selanjutnya, cobalah perhatikan makhluk hidup di sekeliling kita, ternyata semua binatang tidak mungkin terlahir tanpa ada induk yang melahirkannya, induk tersebut juga dilahirkan oleh induknya, dan begitu seterusnya. Manusia juga demikian, kita terlahir dari ibu, ibu terlahir dari nenek, nenek terlahir dari buyut, dan seterusnya. Tidak mungkin kita ada tanpa ibu, tidak mungkin ada ibu tanpa ada nenek, dan tidak mungkin ada nenek tanpa ada buyut. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa segala yang ada di alam ini membutuhkan sebab bagi eksistensinya, mustahil ada dengan sendirinya tanpa membutuhkan yang lain. Dengan demikian, kita telah meniscayakan adanya sebab bagi terselenggaranya kehidupan di alam ini, artinya mustahil kehidupan ini terselenggara tanpa ada yang menyelenggarakan.
Permasalahan selanjutnya yakni apakah sebab itu harus tunggal ataukah banyak, apakah yang menyelanggarakan kehidupan di alam ini secara mutlak dilakukan oleh satu sebab saja ataukah diselenggarakan secara komplementer oleh beberapa sebab? Untuk menjawab persoalan ini, kita bisa memakai tiga model argumentasi.
Pertama, bahwa segala sesuatu memiliki kategori-kategori tertentu. Misalnya, Ikan, Ayam, Kambing, Sapi termasuk dalam kategori binatang. Bambu, Bunga Mawar, Palem, Kaktus termasuk dalam kategori tumbuhan. Jika kedua kategori tersebut kita perluas menjadi kategori “Makhluk Hidup”, maka binatang dan tumbuhan berada pada satu kategori, karena keduanya sama-sama sebagai makhluk hidup. Selanjutnya, kita perluas kategori “Makhluk Hidup” menjadi kategori “Sesuatu yang Ada”, maka segala sesuatu —apapun itu— berada pada kategori yang sama, karena semuanya adalah “Sesuatu yang Ada”, bahkan “yang tidak ada” sekalipun adalah “Sesuatu yang ada”. Dengan demikian, “ada” merupakan sebab tunggal dari segala sesuatu, mengapa? Karena segala sesuatu baru bisa muncul hanya jika memiliki kategori “ada”. Tuhan, manusia, hewan, tumbuhan, bumi, dan lain sebagainya tidak akan muncul —sekalipun hanya dalam benak kita— jika tanpa disertai kategori “ada.”
Kedua, seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa segala yang ada di alam ini membutuhkan sebab bagi eksistensinya. A disebabkan oleh B, B disebabkan oleh C, C disebabkan oleh D, dan seterusnya. Rangkaian sebab tersebut harus berhenti pada satu sebab yang tidak membutuhkan sebab lain. Mengapa demikian? Karena jika tidak berhenti pada satu sebab yang tidak membutuhkan sebab lain, maka A, B, C, D, dan seterusnya tidak akan pernah eksis. A bergantung pada B, B bergantung pada C, C bergantung pada D, semuanya saling bergantung tanpa sandaran yang pasti adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Inilah yang dinamakan “Kemustahilan Tasalsul.” Untuk mempermudah memahami “Kemustahilan Tasalsul” ini, mari kita renungkan analogi berikut ini: “Sekumpulan Mahasiswa akan memasuki kelas, mahasiswa A akan masuk jika mahasiswa B masuk, mahasiswa B akan masuk jika mahasiswa C masuk, mahasiswa C akan masuk jika mahasiswa D masuk, demikian seterusnya mereka saling bergantung, maka yang terjadi adalah mereka tidak akan pernah memasuki kelas. Begitu juga jika A bergantung pada B, B bergantung pada C, C bergantung pada D, dan D bergantung pada A, akan menghasilkan suatu kemustahilan, namun istilah yang digunakan bukan “Tasalsul” tetapi “Dauwr”. Dengan demikian rangkaian sebab itu harus berhenti pada satu sebab yang tidak memerlukan sebab lain.
Ketiga, sistem yang berjalan dalam kehidupan ini sangat teratur. Cacing dimakan burung kecil, burung kecil dimakan tikus, tikus dimakan ular, ular dimakan burung elang, burung elang mati dimakan cacing. Rantai makanan tersebut berimplikasi pada keseimbangan ekosistem, sehingga menjaga kelestarian masing-masing spesies. Manusia dan binatang membutuhkan Oksigen untuk bernapas, sementara tumbuhan membutuhkan Karbon dioksida untuk bernapas. Dari proses pernapasan manusia dan hewan, dihasilkan Karbon dioksida, sementara dari proses pernapasan tumbuhan dihasilkan oksigen. Sungguh luar biasa sistem yang berjalan di alam raya ini. Sehingga antara manusia, hewan, dan tumbuhan saling membutuhkan. Tentu masih banyak lagi bukti-bukti keteraturan alam raya ini yang bisa kita saksikan bersama. Sistem yang serba teratur tersebut tidak mungkin terjadi secara kebetulan, pasti ada satu pemegang otoritas tertinggi yang mengaturnya. Lantas, mengapa harus satu yang memegang otoritas tertinggi tersebut? karena jika yang memegang otoritas itu lebih dari satu, maka tidak akan muncul sistem yang teratur, sistem yang ditetapkan oleh pemegang otoritas yang satu dengan yang lainnya akan saling bertentangan, tidak senantiasa harmonis seperti yang kita lihat di alam raya ini. Lalu bagaimana seandainya ada beberapa dewa yang melakukan pembagian tugas sehingga memungkinkan alam semesta berjalan harmonis? Pembagian tugas tersebut berarti membatasi kekuasaan dewa-dewa tersebut, artinya mereka (dewa-dewa) tidak memiliki kekuasaan yang mutlak, justru mereka dikuasai oleh aturan pembagian tugas tersebut. Dengan demikian, bukan dewa-dewa tersebut yang menyebabkan keteraturan sistem alam raya ini, tetapi “pembagian tugas” itulah yang menjadi sebab tunggal bagi terselenggaranya sistem yang serba teratur ini.
Itulah tiga model argumentasi untuk membuktikan eksistensi sekaligus ketunggalan sebab pertama. Secara logis, eksistensi alam raya ini meniscayakan adanya eksistensi sebab pertama yang tunggal dan tidak bergantung pada sebab lainnya. Sebab pertama itulah yang kemudian dinisbahkan sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Namun, bagi orang atheis, sebab pertama itu murni proses alam saja sesuai dengan hukum alam yang berlaku di jagat raya ini.
Selanjutnya, bagaimana kita bisa mengetahui sifat-sifat Tuhan dengan mengamati alam Raya ini? Sebelumnya kita perlu merenungkan bahwa ada beberapa fakta yang sudah jelas kebenarannya, misalnya sebuah kompor tidak mungkin bisa digunakan untuk memanaskan air jika kompor itu sendiri tidak bisa menghasilkan panas, sebuah kulkas tidak mungkin bisa mendinginkan air jika kulkas itu sendiri tidak bisa menghasilkan dingin. Singkat kata, sesuatu yang tidak dimiliki tidak mungkin bisa diberikan kepada yang lain. Kemudian, air yang dipanaskan menggunakan kompor, suhunya tidak mungkin melebihi suhu kompor yang memanaskannya, begitu juga kulkas, tidak mungkin suhu air yang didinginkan menggunakan kulkas lebih rendah dari suhu kulkas itu sendiri. Singkat kata, sebab senantiasa melebihi akibatnya.
Di jagat raya ini kita bisa menyaksikan dan merasakan berbagai macam situasi dan kondisi, ketika kita menyaksikan pemandangan yang indah di bumi ini, maka sudah pasti Tuhan yang menciptakan bumi jauh lebih indah dari pemandangan tersebut, ketika kita menyaksikan luasnya jagat raya ini, maka sudah pasti Tuhan yang menciptakannya jauh lebih luas dari jagat raya yang kita saksikan tersebut. Dengan demikian, keindahan dan kebesaran yang kita saksikan di jagat raya ini adalah gambaran sifat-sifat penciptanya yakni Tuhan Yang Maha Esa, tentunya dengan kadar yang jauh lebih dahsyat melampaui apa yang kita saksikan di jagat raya ini.
Permasalahan selanjutnya yakni, ketika kita menyaksikan keburukan di jagat raya ini, apakah itu juga menggambarkan bahwa Tuhan memiliki sifat Maha Buruk? Pada hakikatnya yang ada hanyalah kebaikan, keburukan tidak memiliki eksistensi yang mandiri, ia hanya akibat dari kurang atau tidak adanya kebaikan, seperti halnya kegelapan, ia tidak benar-benar eksis, tetapi hanya akibat dari kurang atau tidak adanya cahaya yang meneranginya. Kalau kita perhatikan, kondisi awal bumi ini adalah baik, kehidupan berjalan dengan seimbang, namun setelah ada campur tangan manusia, maka muncullah keburukan-keburukan, seperti Pemanasan Global (Global Warming), Hutan Gundul, Polusi, Pencemaran Lingkungan, Kepunahan Spesies tertentu, dan lain-lain. Itu menunjukkan bahwa keburukan hanyalah efek dari kurang atau hilangnya kebaikan. Manusia secara naluriah mencintai kebaikan, namun dikarenakan faktor-faktor tertentu —ekonomi, politik, dll.— secara perlahan kebaikan itu tertutupi oleh keburukan, maka muncullah berbagai tindak kejahatan yang dilakukan oleh manusia. Sehingga benar jika kita mengatakan, “Kebaikan datangnya dari Tuhan, keburukan datangnya dari manusia”.
Itulah sedikit pelajaran yang bisa kita peroleh dari alam empiris ini. Alam empiris tidak hanya menghasilkan pengetahuan yang empiris pula, tetapi juga menghasilkan pengetahuan metafisik, yakni pengetahuan yang tidak didapat oleh pancaindera manusia. Dengan memberdayakan “akal”, manusia mampu mencapai “makrifatullah” melalui alam raya ini. Wallahua’lam bissawab [].

Sumber:
http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/23/tuhan-nggak-ada/

Membudayakan Tradisi Pemikiran Islam




Dalam literatur sejarah filsafat dunia, peran dan kedudukan filsafat islam seringkali dimarjinalkan dan direduksi, atau bahkan diabaikan sama sekali. Menurut para sejarawan filsafat seperti Hegel, Coplestone atau Russsel, kalau pun ada merit-nya maka itu pun amat kecil dan insignifikan, sebatas menampung dan melestarikan warisan pemikiran Yunani kuno untuk kemudian meneruskannya kepada orang-orang Barat yang saat itu masih berada di jaman kegelapan, atau sekedar menjadi “jembatan peradaban”.
Pernyataan Syamsuddin Arif diatas bisa memberikan petunjuk bahwa tradisi pemikiran dalam dunia islam sebetulnya eksis dan secara meyakinkan telah memberikan sumbangsih besar pada tradisi filsafat barat. Hanya saja para filsuf barat awal seperti Descartes tidak mengakui keterpengaruhannya dengan sengaja tidak menyebut sumber rujukan pemikiran filsafatinya.
Seperti banyak disebut Descartes dengan jargon filsafatnya yang cukup populer cogito ergosum, banyak terpengaruh atau bahkan hanya sekedar copy-paste dari metode skeptik yang diintrodusir Al-Ghazali. Metode keragu-raguan yang mengantar Descartes disebut sebagai bapak filsuf modern. Kenapa para filsuf barat banyak menyembunyikan sumber-sumber rujukannya. Padahal dalam dunia intelektual menjiplak merupakan perbuatan haram dan pantang diperbuat. Namun begitulah fakta yang terjadi.
Dijaman postmodern para cendekiawan muslim dihadapkan pada tantangan pemikiran global yang secara gencar disebarkan oleh para orientalis dan pemikir barat lainnya. Relativisme yang menjadi jantung postmodern merupakan tantangan terbesar. Bukan hanya menggugat otoritas pemikiran, dekonstruksi tafsir pada konsep-konsep pokok dalam islam pun banyak dilakukan. Walaupun tidak ada larangan berfikir, namun bila tidak mengetahui batas-batas sampai dimana wilayah akal tentu amat riskan.
Konsep kafir misalnya dirombak dengan paham pluralisme yang sering dibungkus dengan wacana toleransi. Jadi tidak ada istilah kafir, dan siapa saja yang menyerahkan diri pada Tuhan dan berbuat baik mereka masuk surga. Padahal konsep pemikiran model seperti ini sama sekali telah mengabaikan dimensi eksoteris islam sendiri. Untuk apakah Nabi Muhammad diutus, jika konstruk pemikiran pluralis seperti itu memang layak diikuti. Ini satu tantangan postmodern yang perlu direspon dengan serius. Sebab nampaknya penyebarannya juga dilakukan oleh beberapa kalangan dengan rapi dan memanfaatkan beragam media. Sudah selayaknya jika para intelektual muslim membongkar kerancuan-kerancuan pemikiran lebih-lebih bagi yang ingin merombak tatanan mapan yang telah eksis.
Tantangan nyata saat ini juga datang dari wilayah moral dan etika. Fenomena korupsi memerlukan rangkaian pemikiran filsafati mendalam dan radikal sekaligus. Karena nampaknya hukum dan sistem hukumnya tidak banyak membantu menuntaskan persoalan korupsi yang hampir membuat kolaps eksistensi kebangsaan kita ini. Persoalan gender juga perlu renungan mendalam. Tidak perlu gegabah untuk sesuatu yang masih samar dan meragukan. Belum ada rumusan atau konsep-konsep meyakinkan secara filosofis yang diambil dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia sendiri.
Kampanye gay dan lesbianisme berkedok intelektual seperti dipromosikan Irshad Manji juga satu persoalan aktual yang membutuhkan respon komprehensif. Dalam sisi teologis, jelas tidak ada tawar menawar lagi. Walaupun para pegiatnya belakangan ini nampaknya berusaha mengaburkannya dengan narasi-narasi psikologi, wacana HAM dan toleransi.
Tugas filsuf muslim saat ini, persis seperti yang dilakukan Al-Ghazali dulu dengan Tahafut al-Falasifah, meneguhkan kebenaran dan membatalkan kebatilan. Gejala keterpukauan sebagian kalangan dan penerimaan tanpa sikap kritis mereka pada tradisi pemikiran barat akhir-akhir ini, merupakan contoh buruk dan akan menyuburkan budaya taqlid yang pada gilirannya akan kembali memarjinalkan tradisi pemikiran islam dalam konteks pergulatan intelektual dunia.(http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/23/melanjutkan-tradisi-pemikiran-islam/)

Memahami Esensi Kesombongan



Dalam sebuah riwayat, Rosululloh bersabda “tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada secuil kesombongan”. Kemudian ada seseorang yang bertanya “bagaimana jika ada orang yang senang memakai pakaian yang indah dan sandal yang bagus?”, Beliau menjawab “sesungguhnya Alloh itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan mencela manusia”.
Dari riwayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa esensi kesombongan terletak pada perilaku, bukan pada penampilan. Barangkali penampilan fisik memang dapat menjadi pemicu munculnya kesombongan, namun esensinya tetap pada perilaku. Setidaknya ada dua macam kesombongan yang dapat disimpulkan dari riwayat diatas, yaitu sombong pada kebenaran (al-haq) dengan menolaknya dan sombong pada makhluk dengan menghina atau merendahkannya.
Jika anda adalah seorang senior dalam sebuah komunitas, kemudian ada bawahan anda yang menasehati anda tentang sesuatu, maka apa respon anda? Jika anda merasa gengsi untuk menerima nasehat itu, bahkan mencela bawahan anda tersebut, maka itulah yang dimaksud dengan kesombongan. Biasanya sifat sombong memang akan muncul dari seseorang yang merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Dan semua orang punya potensi seperti itu: seorang Kepala Sekolah bisa jadi gengsi menerima nasehat dari guru. Guru bisa jadi malu mendapat kritikan dari murid, walaupun kritikan tersebut membangun dan baik. Pada saat yang bersamaan murid juga akan mendapat predikat sombong jika Ia tidak mau mendengar nasehat dari teman sebayanya jika karena alasan gengsi dan merasa lebih tinggi.
Jadi, esensi kesombongan adalah sikap menolak kebenaran, dari siapapun itu dan mencela manusia. Sebab, kebenaran itu bisa datang dari siapa saja. jangan kita menolak kebenaran hanya karena yang membawanya adalah orang yang jabatannya lebih rendah dibanding kita. karena Nabi telah memperingatkan kita dengan peringatan yang sangat keras “tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada secuil kesombongan”. (sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)


Mahar Tafsir Al-Quran Ibnu Katsir

t
Mahar adalah menjadi hak penuh sang isteri  yang harus ditunaikan oleh sang suami, dan ia menjadi hak miliknya. Tidak halal bagi seorangpun, baik bapaknya ataupun lainnya mengambil sebagian darinya kecuali dia ridha. Syariat Islam tidak menetapkan batas minimal dan batas maksimal  mahar, namun ia mendorong agar memperingan mahar, tidak terlalu tinggi demi mempermudah urusan pernikahan. Sehingga generasi muda tidak merasa enggan melaksanakan pernikahan karena demikian banyak/besar tanggunannya.
Nah, untuk urusan mahar ini di internet banyak kajian tetang mahar ini salah satunya adalah link ini http://alislamu.com/ibadah/29-nikah/375-mahar.html dan http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg12689.html, tetapi karena seringnya dapat kondangan dan menemukan hal yang aneh lebih baik berbagi pandangan saja.
Seringnya dapat kondangan Ijab Kabul lantas terdengar “…dengan mahar uang senilai 1.122.012 tunai …” kemudian diserah uang tersebut berupa pigura dengan uang kertas ditempel rapi di pigura tersebut, menandakan pernikahannya dilakukan tangga 1 Desember 2012. Mahar dalam bentuk uang kertas kurang bijak, bukankah uang kertas itu nilainya terus menurun, bandingkan uang saku kita dulu sewaktu kuliah dengan saudara kita yang lagi kuliah sekarang, dengan uang 2.000 dahulu bisa dapat sepiring nasi sayur dengan lauk ayam, sekarang dengan uang yang sama hanya bisa memperoleh nasinya saja, luar biasa penurunan nilai uang kertas, inilah yang dimaksud Riba menurut Islam selain bunga pada bank. Bahkan BI sedang mengkaji redenominasi pada uang kertas, menghilangkan tiga nol “000” sehingga uang 1.000 menjadi Rp 1, uang 5.000 menjadi Rp 5, bagi yang kurang paham bisa jadi banyak orang bunuh diri, yang mengira hartanya dirampas oleh negara seperti kejadian tahun ’60-an.
Sering pula dapat kondangan Ijab Kabul terdengar “…dengan mahar uang seperangkat alat sholat…”, mungkin maksudnya bagi si pengantin agar tidak meninggalkan sholat, sehingga jika dihisab telah siap, bukankah yang pertama kali dihisap adalah sholatnya. Bisa jadi argumen tersebut benar tapi tidak berhenti disitu saja, tidak cukup dengan mahar seperangkat alat sholat lantas seorang muslim mengerti tentang Islam yang Kaffah?.
Contoh mahar yang memiliki nilai terbaik adalah Tafsir Al-Quran. Sering kita dapat nasehat “ … bacalah Al-Quran … bacalah Al-Quran … “, pertanyaannya apakah kita mengerti dengan membaca Al-Quran saja, padahal kita terbiasa dengan bahasa Indonesia, tidak cukup dengan Al-Quran terjemahan, dengan Tafsir Al-Quran kita belajar mengerti dan memahami apa yang dikehendaki Alloh terhadap kita manusia dan alam semesta ini melalui ilmu ulama-ulama terbaik terdahulu, sehingga sebagai muslim tidak selalu dalam prasangka dan pikiran yang dangkal, dan yang terpenting gerak langkah menuju Islam yang Kaffah, yang digerakkan oleh pemahaman kita dari isi kandungan Al-Quran.
Murtadha Muthahhari, Ia pernah berkata :
Kita meratapi generasi ini disebabkan ia meninggalkan Al-Quran. Mengapa mereka tidak mempelajari Al-Quran di sekolah-sekolah mereka? Bahkan setelah memasuki perguruan tinggi, mereka tetap saja tidak mampu membaca Al-Quran. Tak diragukan lagi, hal ini tentunya amat menyedihkan. Namun seharusnya kita bertanya kepada diri kita sendiri. “Apa kiranya yang telah kita lakukan sampai sekarang mengenai hal ini? Apakah, dengan menyelenggarakan pelajaran fiqih dan cara membaca Al-Quran seperti sekarang ini, kita dapat mendorong generasi ini mengerti kandungan Al-Quran?
Sungguh aneh, generasi tua sendiri telah meninggalkan Al-Quran; namun ia menyesali generasi mudanya karena tidak mengenal Al-Quran ! Sungguh, kita sendirilah yang telah menjauh dari Al-Quran, lalu mengharap generasi muda kita mendekat kepadanya ! Mari saya buktikan, bagaimana Al-Quran menjadi sesuatu yang ditinggalkan di antara kita.
Jika seseorang diketahui sebagai pakar tentang Al-Quran, yakni banyak melakukan penelitian dan perenungan tentang makna-makna yang terkandung di dalamnya; atau ia mempelajari tafsir Al-Quran secara mendalam, sejauh apa ia dihormati di kalangan kita? Nihil !
Pendapat Murtadha Muthahhari bisa kita jadikan renungan bahwa banyak hal yang menjadikan generasi muda kita menjauh dari Al-Quran, mulai dari kurikulum pendidikan, kesibukan pelajar dengan mata pelajarannya bukan karena kesibukan mempelajari Al-Quran, acara musik di televisi dari petang sampai malam, dari pagi sampai siang, kesibukan mengejar cinta buta, pacaran (khalwat) karena tidak gaul jika tidak pacaran.
Kita mampu membeli gadget terbaik di jaman modern ini lantas Apakah kita mampu membeli Tafsir Al-Quran? Pasti mampu demi diri sendiri dan generasi keturunan Umat Islam terbaik. Bukan bermaksud promosi hanya berbagi info harganya.