Aristoteles Dan Kesempurnaan Logika
Logika adalah hukum-hukum berpikir untuk menghindari kekeliruan dalam berpikir. Logika pertama-tama disusun oleh Aristoteles sehingga tercipta disiplin ilmu baru yang belum ada sebelumnya, yang diberi nama Logicae, yang kini kita sebut Logika.
Kutip
Logika itu adalah sebuah ilmu tentang hukum-hukum berpikir guna memelihara jalan pikiran dari setiap kekeliruan. Logika itu membimbing dan menuntu seseorang supaya berpikir teliti.
Ilmu itu mula-mula disusun oleh Aristoteles (384-322 SM), ahli pikir Grik terbesar itu yang memperoleh gelar Guru Pertama di dunia ini sampai kepada masa kini.
Sumber : Joesoef Sou`yb, Logika, Hal. 231
Prof. Dr. Will Durrant dalam bukunya The Story Of Philosofy menyebutkan bahwa salah satu ketistimewaan Aristoteles adalah dengan tanpa ada yang mendahuluinya, Aristoteles menciptakan sebuah ilmu baru yang disebut Logika, sepenuhnya bergantung kepada kekuatan pemikirannya sendiri. Sifat kebaruan pada disiplin logika ini berarti penciptaan istilah-istilah baru yang belum pernah ada sebelumnya termasuk istilah Logica itu sendiri. Istilah-isitlah yang diciptakan oleh Aristoteles itu lestari hingga saat ini. Dapat dikatakan tiada satupun manusia yang tidak menggunakan istilah yang diciptakan oleh Aristoteles ini. Sebagai contoh istilah “logika” itu sendiri. Semua orang menggunakan istilah itu. Tapi tidak semua orang tahu bahwa istilah itu pertama-tama diciptakan oleh Aristoteles, berasal dari kata Logos.
Logika memang bukanlah hal baru. Ia ada sejak manusia itu ada. Karena Logika adalah cara berpikir manusia yang sehat. Logika merupakan sesuatu yang alamiah, fitrah manusia. Tetapi pada abad 400 sm, Aristoteles melakukan penyelidikan terhadap sesuatu yang alamiah itu untuk diabadikan dalam tulisan. Ini adalah bantuan besar bagi umat manusia. Sehingga manusia bisa lebih mudah menyadari, mengenali, memahami dan mengembangkan potensi yang alamiah itu pada dirinya sendiri.
Plato dan Socrates memberikan sumbangan yang besar terhadap Aristoteles. Keduanya merupakan peletak dasar pemikiran Logika Aristoteles. Plato yang walaupun tidak mempergunakan syllogisme ala Aristoteles, tapi dia terkenal dengan metoda komunikasinya yang disebut dialektika.
Plato terinspirasi oleh ibunya yang seorang bidan yang senantiasa membantu para ibu yang hendak melahirkan dengan segenap kekuatannya. Demikian pula ia menganggap dirinya sebagai bidan filsafat. Sehingga menurutnya, belajar adalah proses mengingat-ngingat. Oleh karena itu dimanapun ia berada selalu mendorong orang lain untuk berpikir dengan benar dengan cara mengajukan “pertanyaan yang memburu”. Intisari dari metodanya ini adalah “tak perlu ajarakan orang lain mengenai apapun, tapi dorong orang lain agar mereka mau berpikir dan mengingat-ingat sesuatu secara bersungguh-sungguh”. Metoda Plato ini sangat efektif sejauh mereka yang diajak bicara tidak malas dalam berpikir dan mengingat-ngingat.
Cara Plato mengajukan pertanyaan merupakan dasar-dasar Logika bagi Aristoteles. Ia memahami bagaimana plato mendorong semua orang untuk mendefinisikan segala sesuatu yang perlu didefinisikan, seperti apa itu keberanian, apa itu moral, apa itu malu, dll. Lalu plato menguji kebenaran definisi-definisi itu dengan contoh-contoh. Jika ada orang mengatakan bahwa keberanian itu begini dan begitu, maka plato menyodorkan contoh-contoh dan bertanya “apakah ini adalah keberanian? Apakah itu adalah keberanian?” mendorong orang lain untuk mengevaluasi ulang makna keberanian yang telah didefinisikannya. Inilah hal-hal yang mendasari pemikiran Aristoteles.
Dengan bekal ilmu yang dipelajarinya di akademi Socrates, Aristoteles menyusun dan menciptakan Logika yang sempurna dan sampai masa kini tiada bandingannya. Menurut Immanual Kant, berbeda dengan disiplin ilmu lainnya, Logika tidak dapat ditambahkan agak sedikitpun, karena sudah sempurna sejak pertamakali diciptakannya.
Kutip
Immanuel Kannt (1724-1804) M), Ahli Pikir Jerman terbesar itu, di dalam karyanya Critique of pure reason cetakan 1950 halaman 8 menulis sebagai berikut :
"Logika itu berkembang dalam jalur yang pasti, bahkan sejak masa mulanya sekali. Hal itu jelas dari kenyataan bahwa sejak masa Aristoteles, ilmu tersebut tak dapat ditambah agak sedikitpun. Karena langsung mencapai kesempurnaannya."
Demikianlah penilaian Immanuel Kant. Berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, yang dari abad ke abad makin bertambah sempurna, tapi ilmu berpikir Aristoteles itu telah sempurna sejak semula.
Sumber : Joesoef Sou`yb, Logika, hal. 5 / 231
Sumber : A. Rochman, SEJARAH LOGIKA, No.12389
Tidak ada komentar:
Posting Komentar