Cinta: Intimacy, Passion, Commitment
Mungkin apa yang akan Anda baca di tulisan saya ini adalah hal yang sudah sering diperbincangkan baik di dunia nyata maupun di media-media sosial. Apalagi kalau bukan cinta.
Cinta merupakan perasaan yang sangat subjektif. Begitu banyak orang yang mendefinisikan arti cinta, sehingga sulit menemukan definisi yang bisa mewakili pemikiran, minimal mayoritas orang-orang di dunia yang penuh cinta ini. Oleh karena itu, izinkan saya untuk mencoba mendefinisikan apa itu cinta dari sudut pandangbackground keilmuwan saya, yaitu psikologi.
Daniel Goleman, penulis buku fenomenal Emotional Intelligencemengelompokkan cinta sebagai salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia, bersanding dengan emosi dasar lain seperti marah, sedih, takut, nikmat, kaget, jengkel, dan malu. Hal ini mengindikasikan bahwa semua manusia pada dasarnya memiliki hasrat untuk mencintai dan dicintai. Bahkan dalam teori Hierarchy Needsmilik Abraham Maslow, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai berada di level ketiga, di bawah kebutuhan aktualisasi diri dan harga diri atau self esteem, menunjukkan betapa pentingnya eksistensi perasaan cinta dalam hidup manusia.
Baiklah, itu hanya sekadar pembuka sebelum saya membahas salah satu teori paling penting tentang cinta. Robert Sternberg, salah seorang psikolog berkebangsaan Amerika Serikat, mencetuskan sebuah teori menarik tentang cinta yang bernamaTriarchic Theory of Love. Ia mendefinisikan cinta sebagai “Love is made up of intimacy, passion, and commitment” atau menurut bahasa yang sering saya gunakan adalah “Cinta dibangun atas dasar kedekatan, nafsu, dan komitmen”. Ia menggambarkan cinta sebagai sebuah segitiga yang tersusun atas fragmen-fragmen bernama kedekatan/Intimacy, nafsu/passion, dan komitmen yang masing-masing memiliki persentase sama besar mengisi segitiga bernama cinta tersebut. Sebelum kita membahas berbagai jenis segitiga yang disajikan oleh Sternberg, ada baiknya bila kita mengetahui terlebih dahulu definisi dari masing-masing fragmen pengisi segitiga tersebut.
Intimacy atau kedekatan menurut Sternberg adalah rasa kasih sayang, saling mendukung, berbagi, dan berkomunikasi dalam sebuah hubungan. Passion atau nafsu ia definisikan sebagai gairah atau hasrat terhadap hal-hal fisik pada tingkat yang tinggi dalam sebuah hubungan, khususnya yang berhubungan dengan seksual. Sedangkan komitmen adalah sebuah keputusan untuk setia dan tetap bersama seseorang. Mengacu pada definisi-definisi di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa cinta akan tercipta ketika kita mampu mengelaborasikan rasa nyaman ketika berdekatan dengan seseorang, hasrat yang terpendam terhadap hal-hal yang berbau fisik, dan membangun komitmen kuat. Itulah yang dinamakan oleh Sternberg sebagaiConsummate Love atau cinta yang sempurna.
Consummate Love digambarkan Sternberg sebagai segitiga yang telah diiisi secara sempurna oleh fragmen-fragmen pembangun cinta, yaitu intimacy, passion,dan commitment. Ketiga hal tersebut saling menopang, dan memiliki porsi yang sama besar dalam membangun makna cinta kepada pasangan yang sebenarnya.
Di sisi lain, Sternberg tidak hanya mengutarakan tentang cinta yang merupakan perpaduan antara ketiga fragmen-fragmen tersebut. Adakalanya, salah satu, dua, atau ketiga fragmen tersebut hilang. Oleh karena itu, Sternberg membuat bentuk-bentuk segitiga lain yang sangat mewakili hal ini.
Segitiga pertama, yaitu diisi oleh intimacy dan passion, tanpa adanya komitmen. Model cinta seperti ini diberi nama Romantic Love atau cinta yang romantis. Mengapa dinamakan romantis? Mungkin (hanya menurut pandangan saya) justru karena seseorang tidak ingin membuat sebuah komitmen dengan pasangannya yang membuat cinta tersebut romantis. Mungkin contoh yang paling cocok dengan kasus ini adalah tipe pacaran anak zaman sekarang, yang hanya mementingkan unsur kedekatan dan rasa suka secara fisik terhadap pasangannya, tanpa bisa membuat sebuah komitmen untuk menuju jenjang yang lebih tinggi (maaf kalau kurang pas, namanya juga seret pengalaman).
Bentuk segitiga selanjutnya, yaitu segitiga yang tidak terisi oleh faktor intimacy, alias hanya terisi oleh passion dan komitmen. Cinta tipe ini disebut Fatuous Love, atau secara sarkas saya bisa katakan sebagai “Cinta yang Bodoh”. Atau lebih jahat lagi saya menganggap orang yang terkungkung dalam model cinta ini adalah orang yang mau “dibodoh-bodohi” oleh pasangannya. Betapa tidak, cinta yang ia miliki bukan untuk membuat dia merasa dekat atau intim dengan pasangannya, tetapi hanya sebuah harapan pada rasa suka secara fisik terhadap pasangannya dan juga komitmen yang telah ia bangun. Poor!
Baik, kita masuk ke model berikut, yaitu Empty Love. Cinta model ini hanya memiliki unsur komitmen, tanpa ada intimacy dan passion pada pasangan tersebut.Sedikit berpikir aneh, saya coba ambil contoh dari model ini yaitu pacaran Long-Distance Relationship alias LDR. Salah satu alasan terkuat saya memilih contoh ini adalah kebanyakan pacaran LDR hanya mengandalkan komitmen mereka untuk mempertahankan hubungan. Salah? Tentu tidak. Yang saya tekankan pada kasus ini adalah bahwa cinta yang hanya dibangun atas dasar komitmen hanyalah cinta hampa, karena intimacy atau kedekatan dan hasrat itu sendiri tidak ada. Bukankah seseorang akan berkumpul bersama orang yang dicintainya?
Last but not least, yaitu tipe Infatuation Love. Tipe ini menggambarkan seseorang yang hanya memandang cinta dari sisi nafsu belaka. Makanya, ia dinamakanInfatuation Love atau cinta gila. Cinta yang ia miliki bukan untuk merasakan kenyamanan dekat seseorang atau membangun komitmen yang utuh, tetapi hanya bertujuan pemuasan nafsu belaka. Kalau begini kasusnya, saya tidak akan segan menyamakan orang yang memiliki cinta seperti ini dengan binatang.
Well, begitulah Robert Sternberg membangun sebuah dasar teori tentangThriarchy Theory of Love dan model-model cinta yang menurut saya sangat menarik untuk dijadikan bahan penelitian para kritikus cinta. Sebenarnya, saya juga ingin mengelaborasikan teori ini dengan perspektif cinta dari sudut pandang Islam. Tetapi, saya akan membahasnya khusus pada kesempatan selanjutnya. Selamat membangun cinta yang sehat!
http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/24/cinta-intimacy-passion-commitment/
http://filsafat.kompasiana.com/2012/06/24/cinta-intimacy-passion-commitment/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar