Laman

Minggu, 24 Juni 2012


Layaknya Dedaunan








Layaknya daun, terhempas angin perubahan, ada yang melambung tinggi dan jatuh, ada yang terus bermekaran, mewarnai langit, ada yang berguguran, hilang dalam lautan angin. Demikianlah kalian.
Menjadi guru bagi saya sama sekali tidak berarti saya hanyalah seorang pengajar, mengajari apa yang kalian belum ketahui, tapi sebagai guru saya adalah seorang pembimbing dalam kebimbangan, suluh dalam kegelapan, dan juru penunjuk jalan dalam kesesatan, pembina dalam mengembangkan jati diri dan potensi. Pada posisi inilah saya meletakkan diri, sebagai guru.
Maka 2 tahun di MAN ketapang adalah masa terbaik saya dalam mengeksplorasi seluruh kemampuan, mewujudkan cinta di alam nyata, membibit bintang di kerendahan bumi, mendasari seluruh pertumbuhan, layaknya akar – akar pohon, berproses menyerap mineral jiwa dan mengalirkannya pada seluruh bagian, kalian bukanlah bagian berbeda, kalian adalah buah, kalian adalah dedaunan, yang bersiap menanam benih, mengakar dan berbunga. Kita membangun dunia, menumbuhkan pohon kehidupan.
Dan jadilah kalian. dan jadilah Kita
Sebagai bagian dari alam, tiap kita akan berubah atau baiknya pahamilah sebagai perpindahan. Tiap partikel dalam semesta ini mengalaminya, berpindah dari satu bentuk ke bentuk lainnya, dan karena tiap kita adalah bagian dari yang lain, maka mau tidak mau, siap tidak siap, ketika bentuk kita –perasaan, hati, kondisi, keinginan dan kebutuhan –berubah maka sudah saatnya kita berucap selamat tinggal atau selamat jalan pada bagian yang selama ini kita jadikan tempat melekatkan diri.
Mungkin, hari ini diri kita adalah seorang guru, mungkin hari ini kita siswa SMA ini, mungkin teman akrab kita hari ini si siapalah, namun ketika masa berpindah datang, mau tidak mau kita akan pergi atau ditinggal pergi. Demikian pula dengan saya dan daun – daun yang indah menghiasi. Cepat lambat, musim kemarau kan datang, ingin bertumbuh lebih tinggi maka sebuah pohon harus tega membiarkan dedaunannya gugur.
Demikian pula daun, demikian pula bunga, demikian pula benih, jika ingin membesar, hadapilah hari berpindah dengan senyuman, lalu jangan benci angin yang menggugurkanmu, karena angin itu akan membawamu pada dunia – dunia yang belum kau ketahui keindahannya. Ada dunia baru disana, tugasmu bukan menangisinya tapi menghiasi. Ada air mata memang, tapi baiknya kau banyakan semangat.
Dan kini, melihatmu, layaknya dedaunan yang gugur menjadi humus, layaknya bunga yang bersiap menebar wangi, dan benih yang bersiap bertumbuh, sedih memang melihatmu terlepas dari apa yang telah kita jaga dan bangun. Ada rasa sakit yang akan kau rasakan, mungkin pula kau salah memilih jalur angin dan tersesat, atau mungkin kau terlelap lupa jati dirimu, tapi ingatlah, dimanapun kau berada, engkau adalah bagian dari pohon yang sama, engkau kan bertumbuh, engkau kan berwarna, engkau kan menghumus.
Dibalik semua itu, Allah selalu menanti kita seberapapun jauh kita berlari menjauhi Nya. Bila hari ini engkau baru teringat, maka selalu lah engkau tahu, bahwa kami, dedaunan, bunga dan akar – akar, akan selalu bersedia membantumu…
Kelak ada masanya kita bertemu lagi. mungkin tidak disini, nanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar