Laman

Minggu, 24 Juni 2012

Logika Pada Zaman Keemasan Islam



Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa di mana disitu pelajaran Logika tumbuh berkembang secara pesat, maka bangsa itu menjadi bangsa yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi maupun filsafat. Namun bangsa di mana ilmu Logika tidak cukup berkembang, bahkan dilarang, diharamkan, para ahli logika dibunuh, sekolah-sekolah yang mengajarkan logika dibakar dan dihancurkan, maka bangsa itu akan menjadi bangsa yang terbelakang. (A. Rochman, SEJARAH LOGIKA, No.12341)

Buah tangan Aristotes diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada sekitar Abad 7 Masehi, dan kemudian diberinya nama ilmu al-Mantiq.

Mantiq itu berasal dari akar kata nathaqa, yang bermana “berpikir”. Nathiqun berarti “yang berpikir”, Mantuqun artinya “yang dipikirkan”. Mantiqun bermakna “alat berpikir”. 

Khalifah Makmun Al-Rasyid dari daulat Abbasyiah di Bagdad, telah memerintahkan Abu Abdi Yasua untuk menerjemahkan Logika kedalam bahasa Arab. Tetapi penerjemahan ke dalam bahasa Arab tersebut bukan yang pertama. Karena sebelumnya Yohana bin Patrik telah terlebih dahulu menerjemahkan Logika ke dalam bahasa Arab yang diberinya nama “Maqulat Asyarat li Aristu” yang berarti “kategori Aristoteles”. Tetapi pada waktu itu, para penejermah tidak pernah menyalin Logika secara sempurna, karena naskah-naskah Aristoteles itu tidak mudah untuk didapatkan, akibat dari fatwa dari Dewan Geraja di barat yang mengaharamkan mempelajari Logika, sehingga naskah-naskah Logika dibakar dan pusat-pusat pendidikan Logika dihancurkan. Bab-bab yang paling pokok dari Logika telah dinyatakan sebagai bab-bab terlarang karena dianggap “mengganggu keimanan geraja”. 

Secara perlahan, para penulis Arab menemukan kembali naskah kuno dari buah tangan Aristoteles dan menghimpunnya, sehingga naskah Logika menjadi semakin lengkap. Kemudian seorang ulama bernama al-Kindi disebut-sebut sebagai yang pertama kali menghimpun naskah Logika secara agak lengkap. 

Kendatipun naskah yang dihimpun oleh al-Kindi disebut paling lengkap pada waktu itu, tetapi naskah-naskah itu masih diluar dari naskah-naskah Logika yang terlarang. Salah satu ketidak lengkapan naskah al-Kindi itu salah satunya terbukti tidak memuat syllogisme dan material syllogisme yang terdapat dalam bab analytica. Padahal bab tersebut merupakan bab paling pokok dalam logika. 

Pada abad ke-9, ditangan Ishak bin Husain, naskah Logika telah disalin sepenuhnya ke dalam bahasa Arab. Tetapi konversi istilah-istilah Logika ke dalam bahasa Arab masih menimbulkan masalah, masih kacau, karena belum adanya keseragaman. Penyempurnaan terakhir terhadap istilah-istilah Logika di dalam bahasa Arab itu dilakukan oleh Abu Mashar Al-Farabi. 

Selain menyalin buah karya Aristoteles dalam bidang Logika, al-Farabi juga menyalin buku-buku Aristoteles dalam bidang ilmiah, serta menambahkan banyak komentar di dalamnya. Di masa al-Farabi itu kemudian Logika mencapai kegemilangannya. Naskah-naskah buah tangan al-Farabi kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, hingga bangsa Eropa menyebut al-Farabi sebagai “Guru Kedua” setelah Aristoteles. Al-Farabi pernah berkata, “Seandainya saya hidup di zaman Aristoteles, tentu saya akan menjadi muridnya yang terbesar”. 

karya Aristoteles dalam bidang ilmu berpikir itu disalin ke dalam bahasa Arab pada masa pemerintahan Daulat Abbasiyah &50-1258 M) di Baghdad, diberi nama : Ilmu Al-Mantiq. Bermula disalin oleh Al-Kindi(801-886 M) dan disempurnakan istilah-istilahnya (dalam bahasa Arab) oleh Al-Farabi (874-950 M). Nama yang diberikan kepada ilmu itu bermakna : Ilmu Tentang Alat Berpikir. (Joesoef Sou`yb, Logika, hal. 4)

Setelah al-Farabi, risalah Logika diteruskan oleh Ibnu Sina yang telah menulis buku berjudul Kitabul Syifa, terdiri dari 18 jilid tebal berisikan pembahasan Logika dengan referensi tafsir Logika al-Farabi. Buah karya ibnu Sina dalam bidang Logika itu kini telah tersimpan di perpustakaan Oxford dan telah berkali-kali dicetak dalam bahasa Latin. 

Buah tangan al-Farabi kemudian menjadi standar pelajaran Logika di benua Eropa. Sedangkan buah tangan Ibnu Sina menjadi standar pelajaran Logika di benua Amerika pada pada ke 17.

http://logika.16mb.com/sejarah-logika/logika-pada-zaman-keemasan-islam/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar