Menjawab Kritikan Ibnu Taimiyah terhadap Logika Aristoteles (bagian 1)
Siapa yang tak kenal Ibnu Taimiyah?
Siapa
yang tak kenal Aristoteles?
Kedua Tokoh besar itu akan bertemu dalam satu wacana diskusi.
Tulisan Ini sangat penting mengulas
seputar “Pro-kontra Kritikan Ibnu Taimiyah terhadap Logika Aristoteles” dalam
bentuk kutipan diskusi para pengikutnya masing-masing, baik dari pengikut
setianya Ibnu Taimiyah dan Pengikut setia Aristoteles.
Agar lebih dipahami skema bacaannya,
lihat petunjuk dibawah ini:
1. bagian stempel putih (pengikut Ibnu
Taimiyah),
2. tanpa stempel(pengikut Aristoteles)..
Ok,,
Kutip dari: yusufmuslim(pengikut ibnu Taimiyah):
Thread ini saya buat untuk menjadi tempat yang sehat untuk
berdiskusi bagi semua kawan yang tertarik dengan kritikan Syeikh Ibnu Taymiyyah
atas logika (baik yang pro maupun yang kontra).
Kata "sehat" harus digarisbawahi sehingga komentar berikut di http://myquran.org/forum/index.php?topic=74754.15
yang tidak menunjukkan apa-apa kecuali kata-kata yang tidak pada tempatnya dan
ketidakpahaman si penulis terhadap pemikiran filosof muslim ini TIDAK MUNCUL
LAGI DI THREAD INI.
Tanggapan(Pengikut Aristoteles):
Tanggapan(Pengikut Aristoteles):
jadi, siapa yang lebih faham terhadap pemikiran filosof muslim ini?
KutipUntuk memulai.
Sebelumnya saya berusaha untuk membaca keseluruhan buku tulisan Ibnu Taymiyyah
yang saya posting dulu. Namun, karena beratnya bahasanya dan banyaknya
pekerjaan yang harus dilakukan, saya belum mampu menyelesaikannya.
Anggapan bahwa bahasan Ibnu Taimiyah tentang Logika itu dianggap sebagai
bahasan yang berat merupakan tanda bahwa orang itu tidak cukup faham tentang
logika. Setidaknya, pemahaman dia tentang Logika masih jauh di bawah ibnu
taimiyah. Sedangkan pemikiran ibu taimiyah tentang logika hanya berputar pada
pelajaran tingkat dasar, tidak lebih. Dia tidak mengerti syarat apa saja yang
diperlukan agar sesuatu sah disebut definisi dan tidak mengerti bagaimana cara
membuktikan kebenaran suatu definisi.
Kutip
Sehubungan dengan argumen bahwa sebuah konsep hanya bisa dicapai melalui
definisi, pertama-tama Ibn Taimiyyah mendebat bahwa sebuah proposisi negatif
seperti itu (yakni, bahwa tidak ada cara lain untuk memahami sebuah konsep
kecuali melalui definisi—pent) membutuhkan bukti dan bukti ini tidak bisa
diberikan oleh para filosof; karena itu, permulaan dari masalah ini adalah
ketidaktahuan/kejahilan.
lagi-lagi! ini adalah kesalah fahaman Ibnu Taimiyah terhadap logika.
bukan konsep yang hanya bisa difahami melalui definisi, melainkan
"Hakikat".
sekali lagi saya tegaskan, bahwa yang hanya bisa difahami melalui definisi itu
adalah hakikat.
jika ibnu taimiyah mengatakan bahwa menurut disiplin ilmu logika konsep
hanya bisa difahami melalui definisi, lagi-lagi itu pertanda ketidak fahaman
beliau terhadap logika.
Bab Utama Logika itu ada 3 :
1. Term
2. Proposisi
3. Syllogisme
Bab term itu memuat 5 pelajaran pokok :
1. konsepsi
2. kategori
3. klasifikasi
4. dichotomi
5. definisi
pada bab definisi itulah dapat difahami dengan jelas bahwa hakikat segala
sesuatu hanya bisa difahami melalui definisi, dan tidak ada cara lainnya.
sekarang misalnya mencari hakikat manusia. apakah itu manusia? misalnya
"manusia adalah makhluk hidup". apakah benar manusia itu makluk
hidup? ya benar. manusia itu adalah makhluk hidup. pernyataan bahwa
"manusia itu adalah makhluk hidup" merupakan proposisi dan bukan
definisi. proposisi tersebut tidak dapat menjelaskan hakikat (essensi) dari
manusia. karena yang merupakan makhluk hidup bukan hanya manusia, tapi hewan
juga makhluk hidup. jadi "makhluk hidup" bukanlah hakikat dari
manusia.
Aristoteles mendefinisikan bahwa definisi manusia adalah "hewan yang
berpikir". inilah hakikat manusia dan definisi inilah yang
senantiasa mendapat tentangan dari para pemuka agama yang bodoh dalam logika.
penentangan mereka muncul dari prasangka bahwa Aristoteles telah merendahkan
derajat manusia dengan mensejajarkannya dengna hewan. lagi-lagi ini bentuk
kesalah fahaman.
mari umpamaan bahwa keseluruhan hewan itu adalah ikan, domba, burung. (angggap
saja semua jenis hewan telah disebutkan. apakah manusia adlah keseluruhan hewan
itu? jawabanya tentu "bukan". manusia itu sungguh berbeda dengan
ikan, domba dan burung. apakah yang membedakan itu semua? tidak lain kemampuan
berpikir. oleh karena itu definisi Aristoteles itu berarti menyatakan bahwa
manusia itu bukanlah keseluruhan hewan itu. dan menyatakan bahwa "yang berpikir"
adalah hakikat dari manusia yang menyebabkan manusia itu tidak bisa disamakan
dengan keseluruhan hewan. justru Aristoteles membela derajat manusia dari hewan
dengan hakikat "yang berpikir". coba bayangkan saja, apabila manusia
tidak mempunyai akal pikiran, maka apakah yang bisa membedakan dia dari pada
hewan?
selain dengan definisi, dengan cara apa lagi seseorang bisa memahami hakikat
manusia? tidak ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar