Laman

Minggu, 24 Juni 2012

Menjawab Kritikan Ibnu Taimiyah terhadap Logika Aristoteles (bagian 1)




Siapa yang tak kenal Ibnu Taimiyah?

Siapa yang tak kenal Aristoteles?



Kedua Tokoh besar itu akan bertemu dalam satu wacana diskusi.
Tulisan Ini sangat penting  mengulas seputar “Pro-kontra Kritikan Ibnu Taimiyah terhadap Logika Aristoteles” dalam bentuk kutipan diskusi para pengikutnya masing-masing, baik dari pengikut setianya Ibnu Taimiyah dan Pengikut setia Aristoteles. 

Agar lebih dipahami  skema bacaannya, lihat petunjuk dibawah ini:

1. bagian stempel putih (pengikut Ibnu Taimiyah),

 2. tanpa stempel(pengikut Aristoteles)..


Ok,,


Kutip dari: yusufmuslim(pengikut ibnu Taimiyah):

Thread ini saya buat untuk menjadi tempat yang sehat untuk berdiskusi bagi semua kawan yang tertarik dengan kritikan Syeikh Ibnu Taymiyyah atas logika (baik yang pro maupun yang kontra). 

Kata "sehat" harus digarisbawahi sehingga komentar berikut di http://myquran.org/forum/index.php?topic=74754.15
yang tidak menunjukkan apa-apa kecuali kata-kata yang tidak pada tempatnya dan ketidakpahaman si penulis terhadap pemikiran filosof muslim ini TIDAK MUNCUL LAGI DI THREAD INI.

Tanggapan(Pengikut Aristoteles):





jadi, siapa yang lebih faham terhadap pemikiran filosof muslim ini?






KutipUntuk memulai.

Sebelumnya saya berusaha untuk membaca keseluruhan buku tulisan Ibnu Taymiyyah yang saya posting dulu. Namun, karena beratnya bahasanya dan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, saya belum mampu menyelesaikannya.






Anggapan bahwa bahasan Ibnu Taimiyah tentang Logika itu dianggap sebagai bahasan yang berat merupakan tanda bahwa orang itu tidak cukup faham tentang logika. Setidaknya, pemahaman dia tentang Logika masih jauh di bawah ibnu taimiyah. Sedangkan pemikiran ibu taimiyah tentang logika hanya berputar pada pelajaran tingkat dasar, tidak lebih. Dia tidak mengerti syarat apa saja yang diperlukan agar sesuatu sah disebut definisi dan tidak mengerti bagaimana cara membuktikan kebenaran suatu definisi. 

Kutip

Sehubungan dengan argumen bahwa sebuah konsep hanya bisa dicapai melalui definisi, pertama-tama Ibn Taimiyyah mendebat bahwa sebuah proposisi negatif seperti itu (yakni, bahwa tidak ada cara lain untuk memahami sebuah konsep kecuali melalui definisi—pent) membutuhkan bukti dan bukti ini tidak bisa diberikan oleh para filosof; karena itu, permulaan dari masalah ini adalah ketidaktahuan/kejahilan.











lagi-lagi! ini adalah kesalah fahaman Ibnu Taimiyah terhadap logika. 


bukan konsep yang hanya bisa difahami melalui definisi, melainkan "Hakikat". 

sekali lagi saya tegaskan, bahwa yang hanya bisa difahami melalui definisi itu adalah hakikat. 

jika ibnu taimiyah mengatakan bahwa menurut disiplin ilmu logika  konsep hanya bisa difahami melalui definisi, lagi-lagi itu pertanda ketidak fahaman beliau terhadap logika. 

Bab Utama Logika itu ada 3 :
1. Term
2. Proposisi
3. Syllogisme

Bab term itu memuat 5 pelajaran pokok :
1. konsepsi
2. kategori
3. klasifikasi
4. dichotomi
5. definisi

pada bab definisi itulah dapat difahami dengan jelas bahwa hakikat segala sesuatu hanya bisa difahami melalui definisi, dan tidak ada cara lainnya. 
sekarang misalnya mencari hakikat manusia. apakah itu manusia? misalnya "manusia adalah makhluk hidup". apakah benar manusia itu makluk hidup? ya benar. manusia itu adalah makhluk hidup. pernyataan bahwa "manusia itu adalah makhluk hidup" merupakan proposisi dan bukan definisi. proposisi tersebut tidak dapat menjelaskan hakikat (essensi) dari manusia. karena yang merupakan makhluk hidup bukan hanya manusia, tapi hewan juga makhluk hidup. jadi "makhluk hidup" bukanlah hakikat dari manusia. 

Aristoteles mendefinisikan bahwa definisi manusia adalah "hewan yang berpikir". inilah hakikat manusia dan definisi  inilah yang senantiasa mendapat tentangan dari para pemuka agama yang bodoh dalam logika. penentangan mereka muncul dari prasangka bahwa Aristoteles telah merendahkan derajat manusia dengan mensejajarkannya dengna hewan. lagi-lagi ini bentuk kesalah fahaman. 

mari umpamaan bahwa keseluruhan hewan itu adalah ikan, domba, burung. (angggap saja semua jenis hewan telah disebutkan. apakah manusia adlah keseluruhan hewan itu? jawabanya tentu "bukan". manusia itu sungguh berbeda dengan ikan, domba dan burung. apakah yang membedakan itu semua? tidak lain kemampuan berpikir. oleh karena itu definisi Aristoteles itu berarti menyatakan bahwa manusia itu bukanlah keseluruhan hewan itu. dan menyatakan bahwa "yang berpikir" adalah hakikat dari manusia yang menyebabkan manusia itu tidak bisa disamakan dengan keseluruhan hewan. justru Aristoteles membela derajat manusia dari hewan dengan hakikat "yang berpikir". coba bayangkan saja, apabila manusia tidak mempunyai akal pikiran, maka apakah yang bisa membedakan dia dari pada hewan? 

selain dengan definisi, dengan cara apa lagi seseorang bisa memahami hakikat manusia? tidak ada.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar