Perspektif tentang Paham Kebebasan
WARNING! Tulisan ini tidak mendasarkan diri pada pembakuan definisi dan pengakuan ilmu dari orang-orang yang so-called ahli, sumber yang terpercaya, termasuk Wikipedia dan pedia-pedia lainnya, serta buku-buku ilmiah yang di-cap sebagai kebenaran. Penulis hanya ingin menuangkan isi pikiran yang memberontak terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita saat ini.
“Para penganut paham kebebasan pada hakikatnya tidaklah bebas. Mereka terkungkung oleh hawa nafsu mereka sendiri untuk bebas, terbelenggu oleh hawa nafsu untuk melepaskan diri dari apa yang mereka anggap belenggu. Mereka yang mengatasnamakan kebebasan, sesungguhnya membatasi diri dengan definisi dari kebebasan itu sendiri. Mereka memberikan syarat untuk dapat dikatakan bebas. Artinya: Mereka benar-benar tidak bebas!”
Seringkali, saya heran dengan orang-orang itu. Mereka pikir mereka bebas, padahal diri mereka saja terbatas. Akal mereka pun terbatas. Penglihatan dan pendengaran mereka terbatas. Sudut pandang mereka terbatas. Dan yang paling penting, pengetahuan mereka terbatas! Tahu apa mereka tentang kebebasan, nyatanya mereka tidak tahu apa-apa kecuali dari perspektif masing-masing dan dari kata para ahli dan ilmuwan yang membakukan definisi “bebas”.
Mereka terkungkung oleh hawa nafsu mereka sendiri untuk bebas, terbelenggu oleh hawa nafsu untuk melepaskan diri dari apa yang mereka anggap belenggu.
“Kami bebas”. Apanya yang bebas wong pikirannya saja masih dikendalikan oleh kemauannya sendiri untuk bebas, dikontrol oleh keinginan untuk lepas dari semua hal yang dianggap sebagai belenggu. Mereka terjebak pada belenggu yang baru: Hawa Nafsu, Rasio, dan Akal.
Mereka yang mengatasnamakan kebebasan, sesungguhnya membatasi diri dengan definisi dari kebebasan itu sendiri. Mereka memberikan syarat untuk dapat dikatakan bebas.
- “Yang penting kan tidak merugikan orang lain.” Nyatanya definisi rugi bagi tiap orang itu kan berbeda-beda. Menurut Anda tidak merugikan, belum tentu menurut saya juga sama.
- “Asalkan tidak menuntut hak dirinya agar dipenuhi orang lain.” Eh gak salah tuh? Padahal di mana-mana, orang yang ingin bebas justru berkoar-koar untuk menuntut kebebasannya.
Masih merasa bebas? :D
Kompasiana.com
Kompasiana.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar