Laman

Minggu, 24 Juni 2012

Menjawab Kritikan Ibnu Taimiyah Terhadap Logika Aristoteles( Bagian 3)




Kutip dari: yusufmuslim
Konteks historisnya adalah Ibn Taimiyyah (bukan saya, lho ya. Ingat itu!!!) melihat betapa sangat pervasif-nya pengaruh logika yunani dalam dunia keilmuan Islam, padahal, menurut pandangan dia, belajar agama ya kepada sumber agama itu: Quran dan Hadith, bukan malah mengambil-ambil sesuatu dari luar Islam. Begitupun, kritikannya terhadap filsafat dan logika adalah pada bagaimana para ahli tasawwuf "sesat" [lagi harus saya tegaskan INI MENURUT DIA !!!] menggunakan filsafat dan logika untuk menjadi pendukung paham sesat mereka.


Saya tanggapi hal ini untuk kedua kalinya. 

“Belajar agama harus kepada sumber agama”. Demikiankah pandangan Ibnu Taimiyah. 

Trus, belajar Logika harus sama siapa? 

Belajar bahasa arab harus sama siapa? 

Jika al-quran hendak diterjemahkan ke dalam english, perlu terampil berbahasa inggris. Belajar english harus kepada siapa? 
Jika al-Quran hendak diungkapkan dengan bahasa Logika, belajar logika harus kepada siapa? 

Jika al-quran hendak dikaji berdasarkan ilmu sastra, maka belajar sastra harus kepada siapa? 


Kutip
Tentu saja kalau menurut anda bantahan dia salah, maka yang salah adalah para ahli logika itu, bukan Ibn Taimiyyah


Tidak ada bukti bahwa para ahli logika itu membuat pernyataan-pernyataan sebagaimana yang dituduhkan oleh ibnu taimiyah. Bisa jadi, pernyataan-pernyataan itu adalah karangan dari ibnu taimiyah sendiri dan bukan benar-benar pernyataan para ahli logika yang menjadi objek kritikan ibnu taimiyah. Apakah hal yang menutup kemunginan ini? Tidak ada. 

Kutip
Tentu saja kalau menurut anda bantahan dia salah, maka yang salah adalah para ahli logika itu, bukan Ibn Taimiyyah



Idealnya Logika dibaca dalam bahasa Grik. Sedangan pernyataan logika ahli logika islam pada masa ibnu taimiyah dan kritikan ibnu taimiyah itu dibaca dalam bahasa arab untuk melihat apakah yang sebenarnya salah itu adalah para ahli logika itu ataukah kritikan ibnu taimiyah. Apakah anda bisa menyebutkan nama-nama para ahli logika itu, siapa sebenarnya yang kritisi oleh ibnu taimiyah? Guru besar logika dalam dunia islam adalah al-Farabi. Apakah ibnu taimiyah mengkritisi pernyataan-pernyataan al-farabi? 

Kutip dari: yusufmuslim
Dan dari siapa anda mendapat pengetahuan ini? DAri Aristoteles langsung?
Atau anda cuma membaca buku logika berbahasa Indonesia yang mengutip perkataan Ahli, yang mengutip lagi, dan yang terakhir ini pun mengutip lagi?
Adalah fair kalau saya menghadapkan kritik yang sama kepada anda sebagaimana yang anda hadapkan kepada Ibn Taimiyyah dan saya: bagaimana anda bisa begitu yakin tidak ada kesalahan terjemahan dalam buku-buku berbahasa Indonesia yang anda baca tersebut?



Tentu fair. Bedanya, saya dapat menjawab kritikan anda. Tapi apakah ibnu taimiyah dapat menjawab kritikan saya? 
Saya memahami bahwa “yang hanya bisa difahami melalui definsi itu adalah essensi, bukan konsepsi” adalah dari seluruh referensi buku logika yang pernah saya baca. Tak satupun dari buku-buku itu yang menyatakan bahwa suatu konsep atau konsepsi hanya bisa difahami melalui definisi. Tetapi dari semua buku logika itu telah dinyatakan bahwa satu-satunya yang hanya bisa difahami melaui definisi adalah essesi atau hakika sesuatu. 
Semua buku logika yang saya baca itu berbahasa Indonesia, ditulis oleh para ahli logika di Indonesia. Semua mereka menyatakan hal sama. Bahwa yang hanya bisa difahami melalui definisia adalah essensi. Tidaklah mungkin para ahli itu bermufakat untuk berbohong. Dan tidaklah mungkin keseluruhan ahli tersebut sama-sama memberikan terjemahan yang salah. Dalama kaidah logika, jika suatu keterangan diperoleh dari sekian banyak sumber yang mustahil bermufakat untuk berbohong, maka keterangan itu termasuk kepada argumentum ad judiciam dan termasuk pula ke dalam derajat mutawatir apabila dibandingkan dengan kaidah ilmu hadits. 

Lupakan para ahli, dan lupakan seluruh buku-buku, karena akal dapat membuktikan bahwa tidaklah mungkin konsep hanya bisa difahami melalui definisi. Dan terbuti hanya hakikat itulah yang bisa difahami melalui definisi. Asal tau saja, apa itu konsepsi dan apa itu definisi. Oleh karena telah sampai pada pembuktian yang bersifat akliah, maka mustahil Aristoteles yang membuat pernyataan bahwa konsep hanya bisa difahami melalui definisi. Itu sangat meyakinkan, kendatupun saya tidak pernah dan tidak bisa membaca karya aristotels dalam bahasa aslinya. 

Berbeda halnya dengan ibnu taimiyah, dia mengkritik pernyataan para ahli logika. Saya tidak minta banyak. Sebutkan satu saja, siapa nama ahli logika yang dikritik oleh ibnu taimiyah itu, dan di dalam kitab mana dapat kita temukan pernyataan ahli logika itu selain yang tertulis di dalam karya ibnu taimiyah itu? Sampai saat ini tidaklah jelas, siapa ahli logika yang dikritisi dan meragukan, apakh ahli logika tersebut benar-benar membuat pernyataan demikian. Kendatipun demikian, tidaklah dpat dipastikan bahwa pernyataan ahli logika itu hanya ilustrasi yang salah dari ibnu taimiyah. Bukan kepastian, melainkan kemungkinan. 


Kutip dari: yusufmuslim
Selanjutnya, apa bedanya antara konsep dengan hakikat? Apa yang begitu berbeda antara konsep dengan hakikat sehingga anda mengatakan dengan menyalah-artikan hakikat sebagai konsep, terlihat bahwa Ibn Taimyyah tidak memahami logika?



Konsepsi adalah pengertian yang terdapat di dalam pikiran. 
Hakikat adalah essensi dari suatu diri. 

Di dalam konsepsi adalah hakikat. Hakikat termasuk di dalam konsepsi. Tetapi luas wialayah konsepsi itu tidak sama dengan luas wilayah hakikat. Konsepsi lebih luas dari pada hakikat. 
Konsepsi dapat difahami dengan propsosi maupun dengan definisi. Oleh karena itu tidaklah benar jika dinyatakan bahwa konsepsi hanya bisa difahami melalui definisi. Karena dengan proposisi pun konsepsi dapat difahami. Akan tetapi, hakikat tidaklah mungkin difahami dengan cara lain selain definisi. 


Kutip dari: yusufmuslim
Ini kalau saya tidak salah dinamakan fallacy of authority ber-dalil dengan otoritas: sesuatu itu mestilah benar karena seseorang atau sekumpulan orang yang lebih pintar mengatakan itu benar.


Mirip, tapi bukan. 

Seandainya itu memang fallacy, Perlu juga diingat bahwa fallacy bukan berarti hal salah. Bergantung dari maksud dan tujuannya. 
Appeals to authority berarti “sesuatu mesti dianggap benar” karena sesuatu itu dikatakan oleh seorang tokoh, orang yang dianggap lebih pintar, berwibawa, berpengaruh atau orang suci. Tetapi, appeals to authority ini juga seringkali termasuk kepada argumentun ada verecundiam, yang berarti “bersandar kepada ahlinya”. Walaupun dalilnya adalah lemah 7 tahap dibawah argumentun ad verecundiam sebagai argumen yang paling kuat, tetapi apabila hal itu diungkapkan tidak dalam rangka “mesti dianggap benar”, melainkan sekedar “perlu difahami adanya indikasi kebenaran”, maka itu tidak termasuk ke dalam fallacy, melainkan ke dalam argumentum ad verecundiam. 

Jikalau para dokter mengatakan bahwa anak-anak perlu diimunisasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh mereka, maka masyarakat boleh mengikuti pendapat para dokter itu. Kaidahnya, orang awam perlu mengikuti apa yang dikatakan oleh para ahli. Kendatipun orang awam akan jadi binbung, bila kelak banyak para ahli yang mengatakan bahwa imunisasi itu sbenarnya berbahaya bagi anak-anak. Tetapi sebelum ada argumentasi yang lebih kuat, bercundus (bersandar pada keterangan para ahli) adalah menjadi suatu kebutuhan. 
Sekali saya tegaskan, bahwa unkapan saya yang mirip dengan fallacy tersebut bukanlah fallacy, melainkan argumentum ad vercundiam. Bukan suatu argumentasi yang mesti dianggap benar, melainkan yang perlu dianggap benar sebelum argumentasi yang membantah kebenarnanya, atau dianggap sebagai argumentasi yang mengindikasikan adanya kebenaran. 



Kutip dari: yusufmuslim
Perlu saya ingatkan bahwa para ahli logika dan filsafat barat memandang kritikan Ibn Taimiyyah sebagai sebuah alat untuk lebih menyempurnakan Logika, yang sebagaimana cabang ilmu lainnya, masih dan akan terus berkembang.
Artinya, kalau anda menganggap logika sebagai ilmu, tidak ada alasan untuk memandangnya sebagai sesuatu yang bernilai absolut. 



Logika telah sempurna sejak ditemjukannya oleh Aristoteles. Sejak 4 abad SM hingga sekarang, tiada seoarng ilmuwanpun yang bisa menambahkan agak sedikitpun para Logika. Itulah keistimewaan aristoteles dan logika yang membedakannya dari lain-lain ilmu. Jikalau ada yang harus dianggap pernah menambahkan atau menyempurnakan Logika adalah tidak lain seorang bernama Theoprastus, murid Aristoteles yang paling pandai. Itupun sebenarnya Theoprastus tidaklah benar-benar menyempurnakan logika yang memang sudah sempurna, melainkan meracik dan menciptakan istiilah baru dari bahan-bahan yang sudah diberikan oleh gurunya, Aristoteles. 


Soal meracik, mengubah istilah dari satu istilah ke isitlah lainnya memang berubah dari zaman ke zaman. Tapi itu bukan temuan-temuan baru dalam logika. Hanya mirip dengan alih bahasa saja. Apalagi ketika logika disaling dan diterjemahkan ke dalam bahasa arab, maka istilah-istilah yang digunakan menjadi jauh dari istilah yang sebenarnya. Seperti misalnya Logika menajadi al-mantiq, term menjadi Had, premisse menjadi muqodimah, dll. Itu sama sekali bukan penyempurnaan ataupun penambahan, melainkan hanya mengubahan istilah. 

Silahkan kumpulkan seluruh buku logika yang ada. Buku-buku itu satu sama lain kadang tampak berbeda-beda sekali dalam istilah dan gaya pembahasannya, tapi tak satupun yang berisi tambahan baru pada Logika Aristoteles itu. Segenap para ahli logika diseluruh dunia, tak ada yang dapat menambahkan ataupun menemukan hal-hal baru untuk ditambahkan ke dalam logika Aristotes itu. 

Jika para ahli logika barat menganggap bahwa kritikan ibnu taimiyah itu sebagai sarana untuk menyempurnakan logika, maka hal yang mungkin pernyataan itu bermakna bahwa kritikan ibnu taimiyah itu mendorong para ahli logika itu lebih jauh menelaah isi kritikan ibnu taimiyah dan menjawabnya dengan logika. Dengan cara itu, keterampilan logika mereka semakin terasah. Ini adalah hal yang mungkin. 
Sebagaimana hal yang saya rasakan sendiri, bahwa Logika itu sangatlah “sepi” dari tantangan. Jarang orang yang dapat melayani berpikir secara logika. Jarangan orang melayangkan kritik terhadap logika. Hal itu disebabkan, jarang orang mengerti logika. Para pelajar dan para ahli logika mengakui bahwa logika itu memang sebuah pelajaran yang sangat membosankan, tapi sangat perlu untuk dipelajari guna menghindari kekeliruan dari berpikir. Tapi berapa banyak yang mampu bertahan dengan pelajaran yang membosankan itu? Tidak banyak. Itu smua menjadi sebab “sepi” nya tantangan terhadap logika. Ketika ada orang yang mencoba mengkritik logika itu bisa dimaknai sebagai “gairah baru” oleh para ahli (yang mungkin sebenarnya masih belajar) untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menggunakan logika. 


Kutip dari: yusufmuslim
SAya tidak melihat hal ini, setidak-tidaknya tidak pada bacaan saya atas Ibn Taimiyyah. Misalnya pada kedua link yang saya sebutkan di thread ini.


Boleh saya tahu darimana anda mengambil kesimpulan "dia melihat siapa yang berkata bukan apa yang dikatakan" ini? 

Kalau tidak salah, di dalam thread sebelumnya sdr. Sahabat mengutipkan kritikan ibnu taimiyah yang isi pernyataannya kira-kira berisi ketidak berfaedahan definisi karena dua alasan. Pertama karena jika orang yang mendengar definisi itu sudah tau kebenaran definisi, berati definisi tidak memberikan informasi yang baru kepada si pendengar. Kedua, apabila si pendengar tidak/belum mengetahui kebenaran definisi tersebut, maka tidak akan ada jalan bagi si pendengar untuk dapat mengetahui kebenaran definisi tersebut, karena sebagaimana yang beliau katakan “bagaimana kita dapat mengetahui bahwa definisi itu benar sedangkan definisi itu dinyatakan oleh orang yang tidak makhsum (tidak suci dari kesalahan). “ dari postingan sdr. Sahabat itulah saya menyimpulkan bahwa ibnu taimiyah dalam hal kbenaran definisi itu melihat kepda “siapa yang menyatkan definisi tersebut “. 


Kutip dari: yusufmuslim
Halaman xxxii-xxxv yang saya sebutkan--YANG MENJADI PE-ER ANDA UNTUK MENUNJUKKAN PEMAHAMAN "TINGKAT DASAR" IBN TAIMIYYAH ATAS LOGIKA SEBAGAIMANA YANG ANDA TUDUHKAN DENGAN SINIS DI ATAS--memuat bagian kritikan mengenai silogisme: complete definition (hadd tamam), species (anwa'), genera (ajnas), general accident (arad amm), dll.
Mengapa anda belum membacanya? 


Saya telah menyempatkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda ditengah kesibukan pekerjaan saja. Dan saya juga harus mengatur agar waktu kerja saja tidak terlalu banyak terganggu, sehingga saya berdosa karena korupsi waktu kerja. Untuk menghindari saya terlalu banyak makan waktu, Saya sangat berharap anda membantu saya mengemukakan kritikan-kritikan ibnu taimiyah di sini satu persatu, agar saya menjawab semua kritikan itu secara bertahap satu demi satu pula. Dengan demikian saya tidak perlu membaca kritikan aristoteles secara keseluruhan skarang ini. 

Adapun penilaian saya terhadap ibnu taimiyah bahwa pemahan logika beliau hanya pada tingat dasar adalah yang mungkin penilaian yang salah dan juga belum tentu salah. Jika terbukti kritikan ibnu taimiyah menyangkut keseluruhan bab, ada indikasi bahwa penilaian saya salah. Tapi baru indikasi. Jika ternyata ada satu saja kritikan ibnu taimiyah yang benar dan mampu memperlihatkan satu saja sisi kesalahan logika, maka disitulah terbukti jikalau penilaian saya terhadap ibnu taimiyah adalah benar-bena salah. Silahkan! 


Kutip dari: yusufmuslim
GAk juga.
Apa yang anda maksud dengan mahluk? Creature atau Being? 
Bahasa Indonesia sedemikian terpengaruh dengan agama Islam, sehingga orang atheis mungkin akan menolak bahasa Indonesia sebagai bahasa yang logis. 




Sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa yang dimaksud makhluk disitu adalah “yang tercipta ada” atau “yang terlahir ada”. 


Apa itu creature ? apa itu being? 


Kutip dari: yusufmuslim
Semua yang anda sampaikan di atas belum benar-benar membantah argumen Ibn Taimiyyah atas proposisi nomor dua di atas. Atau, setidaknya begitulah yang saya lihat. Bisa menjelaskan dimana relevansi-nya antara penjelasan panjang anda atas bagaimana memverifikasi logika dengan kritikan ibn Taimiyyah sementara saya melihat anda memiliki pandangan yang berbeda dengan Ibn Taimiyyah atas "apa itu yang benar".


Tentang definisi membawa kepada pemahaman akan hal-hal ? 

Dari hirari keberadaan seperti misalnya keberadaan manusia sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, karena definisi itu dapat difahami di mana posisi manusia, dan apa hakikatnya. 

Anda tau tumbuhan dan hewan. Pengetahuan anda terhadap hewan dan tumbuhan itu juga disebut pemahaman. Anda tentunya memahami apa itu hewan dan apa itu tumbuhan. Tapi apabila anda berupaya mendefinisikan apa itu tumbuhan dan apa itu hewan, maka anda akan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang hal-hal tersebut. Dan saya sangat berharap anda mau mencoba mendefinisikan dengan bahasa anda sendiri, apa itu tumbuhan dan apa itu hewan, lalu mengemukakannya kepada saya. Agar disksi ini tidak hanya sebatas diskusi teoritik, melainkan berlandakan pula kepada praktik. Sehingga akhirnya anda bisa memahami bahwa ternyata memang benar definisi itu membawa kita lebih jauh kepada pemahaman akan hal-hal. 


Kutip dari: yusufmuslim
Selanjutnya, mengenai hubungan antara "genus", "differentia", "spesies", dan "definisi yang sempurna". Dan ini dari saya sendiri.
Jika definisi sudah sedemikian rinci (sudah mengandung differentia-differentia sampai kepada yang paling "subtle") sehingga menjadi demikian panjang, bagaimana sebuah definisi masih dikatakan sebagai definisi sementara ia sudah lebih kepada bab dan tidak definitive--terbatas? 



Proses yang saya jelaskan diatas itu adalah proses panjang penyelidikan definisi itu sendiri. Atau dapat dikatakan proses terbentuknya sebuah definisi. Definisi “manusia adalah hewan yang berpikir” tampak sederhana dan berwujud satu kalimat saja. Tapi proses terbentuknya definisi itu ternyata berisi uraian yang sangat panjang, dijelaskan melalui categorical proposition. Setelah suatu definiendum selesai di definisikan dengan definisi yang sempurna, maka lengkaplah batasan mengenai suatu diri itu. Yakni definiendum (yang didefinisikan) bersifat setara dengan definiens (definisi). 




Mendefinisikan sesuatu itu memang tidak mudah. Butuh waktu yang mungkin tidak sbentar untuk bisa mendefiniskan sesuatu. Makin sederhana lingkungan jenis sesuatu, maka makin sulit sesuatu didefinisikan. Akhirnya sampai pada suatu pemahaman bahwa tidaklah mungkin segala sesuatunya dapat didefinisikan berhubung banyaknya objek yang tidak terbatas ini. Hal-hal yang perlu didefiisikan adalah hal-hal pokok dan memang butuh didefinisikan saja. Sebagian hal cukup difahami melalui proposisi. Dan ini pula yang memustahilkan bahwa konsepsi hanya bisa difahami melalui definisi. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar