Laman

Minggu, 24 Juni 2012

Menjawab Kritikan Ibnu Taimiyah Terhadap Aristoteles

( Bagian 2)


Kutip dari: yusufmuslim
SAya tidak tahu dengan anda, tetapi kalau saya menjadi anda, saya akan berusaha menjelaskan hal di atas dengan lebih mendalam.
Mohon dielaborasi lebih lanjut.Kalau yang saya tangkap dari bacaan-bacaan saya: konsep itu adalah ide umum mengenai sesuatu hal/benda baik yang abstrak maupun yang kongkret. Dalam dunia akademik, kita menjumpai kata-kata/ucapan seperti "konsep musyawarah adalah...", "konsep 1 meter adalah...", "dia tidak memahami konsep fisika..." dll. Dari sudut pandang ini, konsep memang adalah hal yang dijelaskan oleh definisi. Bahkan sering antara definisi dan konsep dikacaukan/tidak dibedakan penggunaannya. Dari yang saya baca adalah bahwa kita memahami fenomena "big bang"--misalnya--melalui konsep yang disampaikan atas "big bang" itu. Dan pada gilirannya, kita juga menerangkan pemahaman kita atas big bang dalam bentuk konsep yang kita sampaikan kepada orang lain. Intinya, saya tidak melihat adanya perlunya apa yang anda anggap sebagai pelurusan pemahaman Ibn Taimiyyah atas logika, yakni pembedaan konsep dan hakikat. Syaikh Akram NAdwi yang saya kutip di atas saya rasa menyebutkan konsep dalam pengertian pemahaman atas sesuatu hal/benda yang sedang didefinisikan. Karena memang ini yang dikritik Ibn Taimiyyah: bahwa definisi dipandang sebagai satu-satunya cara untuk memahami sesuatu hal/benda yang sedang didefinisikan itu. Ini terlihat dengan bantahannya bahwa ada cara lain untuk memahami sesuatu hal/benda. Misalnya jika ada yang bertanya: apa itu "tangan"? maka orang yang ditanya tinggal tunjukkan "tangan" dan orang yang bertanya akan memahami "tangan" itu. Intinya, dari sudut pandang ini apa yang anda namakan sebagai "hakikat" adalah merupakan hal yang sama dengan yang dinamai ahli logika arab dan dikutipkan Ibn Taimiyyah dengan "konsep". 


 

Tanggapan :

Jikalau mau bersikukuh bahwa konsep itu sama dengan hakikat, maka itu silahkan saja. Saya sudah menjelaskan perbedaan dan persamaan antara konsep dan hakikat. Kalau mau bersikeras bahwa itu sama, maka penjelasan apapun pasti tidak akan ada gunanya.
Bukan untuk yang mau bersikeras, melainkan untuk yang mau memahami, saya akan menjelaskan kembali untuk kedua kalinya persamaan dan perbedaan antara konsep dan hakikat.
Konsep adalah ide/pemahaman/pengertian yang ada di dalam pikiran.

Hakikat adalah essensi suatu diri.
Definisinya saja sudah beda.
Lalu di mana letak persamaan atau hubungan antara konsep dan hakikat? Seperti hubungan manusia dengan benda, seperti hubungan kalimat dengan paragraf. Apakah manusia itu termasuk kepada benda? Ya benar. Tapi benda tidak hanya manusia. Apakah sebuah paragraf merupakan kumpulan kalimat? Ya benar. Tapi tidak bisa dikatakan bahwa kalimat sama dengan paragraf.
Demikian pula halnya hubungan konsep dengan hakikat. Apakah sebuah hakikat itu adalah konsep? Ya. Hakikat itu adalah konsep. Setiap hakikat pastilah konsep. Tapi tidak setiap konsep berarti hakikat.
Ada seorang anak kecil sedang menonton sebuah karnaval bersama ayahnya. Si ayah berkata, “sebentar lagi akan ada rombongan anak sd lewat.” Si anak tertarik ingin menarik serombongan anak sd lewat.
Kemudian munculah rombongan anak sd itu berbaris perkelas. Si ayah berkata kepada anaknya, “ini adalah barisan kelas 1, ini adalah barisan kelas 2, ......ini ada barisan kelas 6.” Setelah rombongan habis berlalu, si anak kecil bertanya, “ayah, manakah barisan anak sd nya?” si anak tidak mengerti kalau barisan kelas 1 sd. Kelas 6 tadi, ya itulah yang dimaksud dengan anak sd. Kadang-kadang dijelaskan dengan berbagai cara pun si anak belum dapat mengerti, karena sudah terlebih dahulu si anak mempersepsi bahwa rombongan sd itu adalah rombongan yang terpisah dari rombongan kelas-kelas. Haruskah dipaksakan untuk mengerti? Tidak. Butuh waktu bagi si anak untuk lebih dewasa pemikiran dan mampu menerima penjelasan sang ayah.
Seperti itulah perbedaan konsep dan hakikat. Hakikat berada dalam wilayah konsep. Dan konsep memiliki lingkungan yang lebih luas dari pada hakikat.
Di dalam logika, sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, ada tiga bab utama, yaitu term, proposisi dan syllogisme.
Di dalam term, terdapat bab tentang :

1. Konsep
2. Kategori
3. Klasifikasi
4. Dichotomi
5. Definisi 


Konsep merupakan sub dari term yang berbeda dari sub-sub lainnya. Konsepsi dibedakan dari definisi. Di dalam definisi itulah terdapat pengajaran tentang hakikat. Terdapat 9 pasal yang harus diepelajari untuk dapat memahami bab konsep. Dan ada 4 pasal yang harus difahami untuk bisa memahami definisi, salah satunya adalah pasal mengenai hakikat. Dari penyusunan kurikulum ini saja sudah bisa menandakan adanya perbedaan makna antara konsepsi dan hakikat.



Kutip dari: yusufmuslim
Karena itu, dalam dunia ilmiah, penggunaan fallacy ini jarang dilakukan. Terutama karena penyebutan "Kan para ahli bilang gitu..." atau kalimat yang semacamnya saja menunjukkan kesan yang nyata bahwa si pembicara tidak benar-benar menguasai hal yang dibicarakan (kelihatan keawamannya) dan karenanya patut diragukan pernyataannya.


Atau mungkin yang berbicara bercundus karena sulit menjelaskan bahasa ilmiah kepada orang awam atau menganggap yang diajak bicara tidak cukup pintar untuk bisa mengerti isi pembicaraannya.


Kutip dari: yusufmuslim
Begitu ya?
Ada tulisan bagus untuk anda di sini http://www.questia.com/PM.qst?a=o&d=59675405 yang menerangkan SEJARAH DAN PERKEMBANGAN logika.
Btw. anda pernah mendengar Karl Popper?
Dalam dunia ilmiah, konsep falsifiability Popper sering dikutip untuk menentukan apakah sesuatu pengetahuan merupakan ilmu (yang ilmiah) atau tidak. Menurut dia, dan ini kesepakatan umum dalam dunia ilmiah, suatau bentuk pengetahuan, khususnya suatu teori, baru dikatakan ilmiah apabila IA BISA DIBANTAH/DITUNJUKKAN KESALAHANNYA.





Faktanya, tidak ada satupun ilmuwan yang dapat membantah teori-teori aristoteles dalam bidang logika. Termasuk ibnu taimiyah. Tak satupun kritikan ibnu taimiyah itu yang dapat dianggap mampu menunjukan kelemahan logika.

Bandingkan dengan kritikan Galileo Galilei terhadap kesimpulan Aristoteles. Gelileo dapat membuktikan kesalahan kesimpulan Aristoteles dengan bukti-bukti yang nyata. Dan itu dapat diakui para ahli logika di seluruh dunia. Sedangkan ibnu taimiyah, siapa yang dapat mengakuinya bahwa itu adalah kritikan yang benar dan mampu mematahkan teori aristoteles? Tidak ada, kecuali para pengagumnya yang fanatik.
Perlu diketahui bahwa kritikan Galileo pun hanya kepada kesimpulan ilmiah Aristoteles, tapi tidak menyentuh kepada persoalan teori logika.



Kutip dari: yusufmuslim
Artinya, kalau anda menganggap logika sebagai ilmu, ia mestilah memenuhi syarat harus bisa dibantah/ditunjukkan kesalahannya.

Kalau tidak, logika mestilah cuma dogma.


Logika bisa dan boleh dibantah. Tapi sejauh ini, tidak ada bantahan yang bisa menunjukan bahwa itu adalah teori yang salah. Segala sesuatu memiliki keterbatasan dan kelemahan. Itulah yang membuat sesuatu itu dapat ditunjuken kelemahannya. Salah satu kelemahan logika premissenya mesti bergantung keapda ilmiah. Untuk melahirkan kesimpulan yang benar dalam bidang ilmiah, premisse akhirnya harus bersifat ilmiah. Logika tidak bisa berdiri sendiri, memisahkan diri dari ilmiah. Ini batas logika. Ini adalah kelemahan logika. Dapat diakui oleh para ahli logika di manapun. Tapi apa yang dilakuakn oleh ibnu taimiyah, sama sekali tidak dapat disebut “menunjukan kelemahan” atau “kesalahan logika”.


Kutip dari: yusufmuslim
Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, saya rasa anda-lah yang mestinya "melihat kepada apa yang disampaikan, bukan kepada siapa yang menyampaikan"
Kritikan Ibn Taimiyyah tidak ada sangkut pautnya dengan "melihat kepada siapa yang menyampaikan" tetapi kepada fakta bahwa tidak ada seorangpun yang bebas dari kesalahan DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KE-ESESNSIAL-AN LOGIKA UNTUK MEMAHAMI HAL-HAL BENDA-BENDA MENURUT LOGIKA YUNANI KUNO.



Pengetahuan anda dengan pengetahuan sdr. Sahabat itu berbeda. Hal-hal yang dikutip oleh sdr. Sahabat dari ibnu taimiyah adalah berbeda dengan hal-hal yang anda kutip dari ibnu taimiyah. Oleh karena itu, lupakan saja pembahasan tentang “ibnu taimiyah melihat siapa yang berkata” karna ini adalah informasi yang luput dari pengetahuan anda. Silahkan bahas hal-hal lain yang jelas informasinya bagi anda.


Kutip dari: yusufmuslim
Kita terapkan pada kasus yang anda bawakan saja, yakni definisi "manusia adalah hewan yang berfikir".
BAgaimana "hewan yang berfikir" bisa membedakan manusia dengan anjing atau simpanse sementara menurut perkembangan ilmu psikologi akhir-akhir ini bahwa hewan ternyata juga bisa berfikir. Cek dihttp://www.psychologytoday.com/articles/199911/do-animals-think?page=3 atau dihttp://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,978023,00.html
Terlepas dari itu, bagaimana kalau orang lain tidak setuju dengan definisi "manusia sebagai hewan yang berfikir" tetapi "manusia sebagai hewan yang bisa tertawa", misalnya?


 

 

Definisi “manusia adalah hewan yang bisa tertawa” disebut definisi eksidentil. Kenapa? Karena “tertawa” bukanlah essensi dari manusia. Essensi dari sesuatu itu adalah apabila ia ada, maka sesuatu itupun ada. Dan jika ia tidak ada, maka sesuatu itupun tidak ada. Jika essensi manusia adalah “yang berpikir”, maka manusia ada hanya jika ia berpikir. Bila ia tidak berpikir, maka manusia itupun tidak ada. Maka socrates mengatakan “aku ada karena aku berpikir”. Sedangkan tertawa, kendatipun ia menjadi sifat pemisah dari lain-lain golongan hewan yang memang tidak bisa tertawa, tapi tertawa bukan essensi. Ia disebut sifat khusus. Tertawa dalah sifat khusus yang dimiliki manusia, tapi bukan essensi manusia. Maka definisinya disebut definisi eksidentil, bukan definisi essensil.
Untuk membantu memudahkan memahamkan definisi aristoteles tentang manusia, maka sekali lagi saya anjurkan kepada anda untuk mencoba mendefinisikan dua hal berikut :


1. Tumbuhan
2. hewan 


kalau orang membantah bahwa manusia itu bukanlah hewan, dan yakin bahwa bantahannya itu benar, berarti dia yakin bahwa dia itu tau apa itu manusia dan apa itu hewan ? kalau tidak tau apa itu hewan, bagaimana bisa membantah bahwa manusia itu bukan hewan?
Kalaulah ibnu taimiyah masih hidup, maka tentu saya akan bertanya kepada beliau “apa itu hewan?” tapi karena beliau sudah tidak ada, yang ada adalah anda dan para pengagum belieu, maka hanya bisa tanya kepada anda, para pengagum beliau dan orang yang setuju dengan bantahan beliau “apa itu hewan?” Jikalau tidak tau jawaban dari pertanyaan tersebut, berarti dia telah membantah sesuatu yang tidak dia fahami.

Mengatakan sesuatu seperti “anda tidak bisa memahami ini karena anda belum mempraktikan sesuatu” dalam logika bisa merupakan sebuah fallacy. Tetapi sekali lagi, fallacy tidak berarti salah. Jikalau orang mendiskusikan “dua batu, besar dan kecil, bila dijatuhkan dari atas menara tinggi, manakah yang akan sampai ke permukaan bumi terlebih dulu?” Tentu saja orang boleh berteori. Tapi ujung dari teori itu, untuk memsatikan, ya perlu dipraktikan dengan benar-benar mencoba menjatuhkan dua batu besar dan kecil dari atas menara. Itu namanya percobaan ilmiah. Mengajak orang kepada praktik seperti itu berarti mengajak untuk melakukan percobaan ilmiah, bukan fallacy. Seperti kata ibnu taimiyah “tinggal mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah telinga” demikian cara untuk memahami “konsep telinga”. Seperti itu pula untuk memahami kebenaran definisi Aristoteles, coba praktikan terlebih dahulu dengan mendefinisikan “apa itu hewan”. 

 

 


Kutip
Kalaupun anda keberatan dengan perkembangan terbaru di atas, tetap saja fair kalau kita katakan bahwa "cuma manusialah hwan yang bisa berfikir" masih diperdebatkan dan karenanya "hewan yang berfikir" tidak bisa digunakan untuk mendefinisikan manusia.

 


Sesuatu yang diperdebatkan bukanlah suatu faktor yang menyebabkan sesuatu itu tidak bisa digunakan sebagai definisi. Ada 4 syarat agar sesuatu itu secarah sah disebut definisi. Yang paling inti adalah jika luas lingkungan definiens sama dengan luas lingkungan definiendum, maka ssuatu itu sah disebut definisi, apakah ia diperdebatkan atau tidak.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar