Menjawab Kritikan Ibnu
Taimiyah Terhadap Aristoteles
( Bagian 2)
Kutip dari: yusufmuslim
SAya tidak tahu dengan anda, tetapi kalau saya menjadi anda, saya akan berusaha
menjelaskan hal di atas dengan lebih mendalam.
Mohon dielaborasi lebih lanjut.Kalau yang saya tangkap dari bacaan-bacaan saya: konsep itu adalah ide umum
mengenai sesuatu hal/benda baik yang abstrak maupun yang kongkret. Dalam dunia
akademik, kita menjumpai kata-kata/ucapan seperti "konsep musyawarah
adalah...", "konsep 1 meter adalah...", "dia tidak memahami
konsep fisika..." dll. Dari sudut pandang ini, konsep memang adalah hal yang dijelaskan oleh definisi.
Bahkan sering antara definisi dan konsep dikacaukan/tidak dibedakan
penggunaannya. Dari yang saya baca adalah bahwa kita memahami fenomena "big
bang"--misalnya--melalui konsep yang disampaikan atas "big bang"
itu. Dan pada gilirannya, kita juga menerangkan pemahaman kita atas big bang
dalam bentuk konsep yang kita sampaikan kepada orang lain. Intinya, saya tidak melihat adanya perlunya apa yang anda anggap sebagai
pelurusan pemahaman Ibn Taimiyyah atas logika, yakni pembedaan konsep dan
hakikat. Syaikh Akram NAdwi yang saya kutip di atas saya rasa menyebutkan konsep dalam pengertian
pemahaman atas sesuatu hal/benda yang sedang didefinisikan. Karena memang ini
yang dikritik Ibn Taimiyyah: bahwa definisi dipandang sebagai satu-satunya cara
untuk memahami sesuatu hal/benda yang sedang didefinisikan itu. Ini terlihat dengan bantahannya bahwa ada cara lain untuk memahami sesuatu
hal/benda. Misalnya jika ada yang bertanya: apa itu "tangan"? maka
orang yang ditanya tinggal tunjukkan "tangan" dan orang yang bertanya
akan memahami "tangan" itu. Intinya, dari sudut pandang ini apa yang anda namakan sebagai
"hakikat" adalah merupakan hal yang sama dengan yang dinamai ahli
logika arab dan dikutipkan Ibn Taimiyyah dengan "konsep".
Tanggapan :
Jikalau mau bersikukuh bahwa konsep itu sama dengan hakikat, maka itu silahkan
saja. Saya sudah menjelaskan perbedaan dan persamaan antara konsep dan hakikat.
Kalau mau bersikeras bahwa itu sama, maka penjelasan apapun pasti tidak akan
ada gunanya.
Bukan untuk yang mau bersikeras, melainkan untuk yang mau memahami, saya akan
menjelaskan kembali untuk kedua kalinya persamaan dan perbedaan antara konsep
dan hakikat.
Konsep adalah ide/pemahaman/pengertian yang ada di dalam pikiran.
Hakikat adalah essensi suatu diri.
Definisinya saja sudah beda.
Lalu di mana letak persamaan atau hubungan antara konsep dan hakikat? Seperti
hubungan manusia dengan benda, seperti hubungan kalimat dengan paragraf. Apakah
manusia itu termasuk kepada benda? Ya benar. Tapi benda tidak hanya manusia.
Apakah sebuah paragraf merupakan kumpulan kalimat? Ya benar. Tapi tidak bisa
dikatakan bahwa kalimat sama dengan paragraf.
Demikian pula halnya hubungan konsep dengan hakikat. Apakah sebuah hakikat itu
adalah konsep? Ya. Hakikat itu adalah konsep. Setiap hakikat pastilah konsep.
Tapi tidak setiap konsep berarti hakikat.
Ada seorang anak kecil sedang menonton sebuah karnaval bersama ayahnya. Si ayah
berkata, “sebentar lagi akan ada rombongan anak sd lewat.” Si anak tertarik
ingin menarik serombongan anak sd lewat.
Kemudian munculah rombongan anak sd itu berbaris perkelas. Si ayah berkata
kepada anaknya, “ini adalah barisan kelas 1, ini adalah barisan kelas 2,
......ini ada barisan kelas 6.” Setelah rombongan habis berlalu, si anak kecil
bertanya, “ayah, manakah barisan anak sd nya?” si anak tidak mengerti kalau
barisan kelas 1 sd. Kelas 6 tadi, ya itulah yang dimaksud dengan anak sd.
Kadang-kadang dijelaskan dengan berbagai cara pun si anak belum dapat mengerti,
karena sudah terlebih dahulu si anak mempersepsi bahwa rombongan sd itu adalah
rombongan yang terpisah dari rombongan kelas-kelas. Haruskah dipaksakan untuk
mengerti? Tidak. Butuh waktu bagi si anak untuk lebih dewasa pemikiran dan
mampu menerima penjelasan sang ayah.
Seperti itulah perbedaan konsep dan hakikat. Hakikat berada dalam wilayah konsep.
Dan konsep memiliki lingkungan yang lebih luas dari pada hakikat.
Di dalam logika, sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, ada tiga bab
utama, yaitu term, proposisi dan syllogisme.
Di dalam term, terdapat bab tentang :
1. Konsep
2. Kategori
3. Klasifikasi
4. Dichotomi
5. Definisi
Konsep merupakan sub dari term yang berbeda dari sub-sub lainnya. Konsepsi
dibedakan dari definisi. Di dalam definisi itulah terdapat pengajaran tentang
hakikat. Terdapat 9 pasal yang harus diepelajari untuk dapat memahami bab
konsep. Dan ada 4 pasal yang harus difahami untuk bisa memahami definisi, salah
satunya adalah pasal mengenai hakikat. Dari penyusunan kurikulum ini saja sudah
bisa menandakan adanya perbedaan makna antara konsepsi dan hakikat.
Kutip dari: yusufmuslim
Karena itu, dalam dunia ilmiah, penggunaan fallacy ini jarang dilakukan.
Terutama karena penyebutan "Kan para ahli bilang gitu..." atau
kalimat yang semacamnya saja menunjukkan kesan yang nyata bahwa si pembicara
tidak benar-benar menguasai hal yang dibicarakan (kelihatan keawamannya) dan
karenanya patut diragukan pernyataannya.
Atau mungkin yang berbicara bercundus karena sulit menjelaskan bahasa ilmiah
kepada orang awam atau menganggap yang diajak bicara tidak cukup pintar untuk
bisa mengerti isi pembicaraannya.
Kutip dari: yusufmuslim
Begitu ya?
Btw. anda pernah mendengar Karl Popper?
Dalam dunia ilmiah, konsep falsifiability Popper sering dikutip untuk
menentukan apakah sesuatu pengetahuan merupakan ilmu (yang ilmiah) atau tidak.
Menurut dia, dan ini kesepakatan umum dalam dunia ilmiah, suatau bentuk
pengetahuan, khususnya suatu teori, baru dikatakan ilmiah apabila IA BISA
DIBANTAH/DITUNJUKKAN KESALAHANNYA.
Faktanya, tidak ada satupun ilmuwan yang dapat membantah teori-teori
aristoteles dalam bidang logika. Termasuk ibnu taimiyah. Tak satupun kritikan
ibnu taimiyah itu yang dapat dianggap mampu menunjukan kelemahan logika.
Bandingkan dengan kritikan Galileo Galilei terhadap kesimpulan Aristoteles.
Gelileo dapat membuktikan kesalahan kesimpulan Aristoteles dengan bukti-bukti
yang nyata. Dan itu dapat diakui para ahli logika di seluruh dunia. Sedangkan
ibnu taimiyah, siapa yang dapat mengakuinya bahwa itu adalah kritikan yang
benar dan mampu mematahkan teori aristoteles? Tidak ada, kecuali para
pengagumnya yang fanatik.
Perlu diketahui bahwa kritikan Galileo pun hanya kepada kesimpulan ilmiah
Aristoteles, tapi tidak menyentuh kepada persoalan teori logika.
Kutip dari: yusufmuslim
Artinya, kalau anda menganggap logika sebagai ilmu, ia mestilah memenuhi syarat
harus bisa dibantah/ditunjukkan kesalahannya.
Kalau tidak, logika mestilah cuma dogma.
Logika
bisa dan boleh dibantah. Tapi sejauh ini, tidak ada bantahan yang bisa
menunjukan bahwa itu adalah teori yang salah. Segala sesuatu memiliki
keterbatasan dan kelemahan. Itulah yang membuat sesuatu itu dapat ditunjuken
kelemahannya. Salah satu kelemahan logika premissenya mesti bergantung keapda
ilmiah. Untuk melahirkan kesimpulan yang benar dalam bidang ilmiah, premisse
akhirnya harus bersifat ilmiah. Logika tidak bisa berdiri sendiri, memisahkan
diri dari ilmiah. Ini batas logika. Ini adalah kelemahan logika. Dapat diakui
oleh para ahli logika di manapun. Tapi apa yang dilakuakn oleh ibnu taimiyah,
sama sekali tidak dapat disebut “menunjukan kelemahan” atau “kesalahan logika”.
Kutip dari: yusufmuslim
Sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, saya rasa anda-lah yang
mestinya "melihat kepada apa yang disampaikan, bukan kepada siapa yang menyampaikan"
Kritikan Ibn Taimiyyah tidak ada sangkut pautnya dengan "melihat kepada
siapa yang menyampaikan" tetapi kepada fakta bahwa tidak ada seorangpun
yang bebas dari kesalahan DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KE-ESESNSIAL-AN LOGIKA UNTUK
MEMAHAMI HAL-HAL BENDA-BENDA MENURUT LOGIKA YUNANI KUNO.
Pengetahuan anda dengan pengetahuan sdr. Sahabat itu berbeda. Hal-hal yang
dikutip oleh sdr. Sahabat dari ibnu taimiyah adalah berbeda dengan hal-hal yang
anda kutip dari ibnu taimiyah. Oleh karena itu, lupakan saja pembahasan tentang
“ibnu taimiyah melihat siapa yang berkata” karna ini adalah informasi yang
luput dari pengetahuan anda. Silahkan bahas hal-hal lain yang jelas
informasinya bagi anda.
Kutip dari: yusufmuslim
Kita terapkan pada kasus yang anda bawakan saja, yakni definisi "manusia
adalah hewan yang berfikir".
Terlepas dari itu, bagaimana kalau orang lain tidak setuju dengan definisi
"manusia sebagai hewan yang berfikir" tetapi "manusia sebagai
hewan yang bisa tertawa", misalnya?
Definisi
“manusia adalah hewan yang bisa tertawa” disebut definisi eksidentil. Kenapa?
Karena “tertawa” bukanlah essensi dari manusia. Essensi dari sesuatu itu adalah
apabila ia ada, maka sesuatu itupun ada. Dan jika ia tidak ada, maka sesuatu
itupun tidak ada. Jika essensi manusia adalah “yang berpikir”, maka manusia ada
hanya jika ia berpikir. Bila ia tidak berpikir, maka manusia itupun tidak ada.
Maka socrates mengatakan “aku ada karena aku berpikir”. Sedangkan tertawa,
kendatipun ia menjadi sifat pemisah dari lain-lain golongan hewan yang memang
tidak bisa tertawa, tapi tertawa bukan essensi. Ia disebut sifat khusus.
Tertawa dalah sifat khusus yang dimiliki manusia, tapi bukan essensi manusia.
Maka definisinya disebut definisi eksidentil, bukan definisi essensil.
Untuk membantu memudahkan memahamkan definisi aristoteles tentang manusia, maka
sekali lagi saya anjurkan kepada anda untuk mencoba mendefinisikan dua hal
berikut :
1. Tumbuhan
2. hewan
kalau orang membantah bahwa manusia itu bukanlah hewan, dan yakin bahwa
bantahannya itu benar, berarti dia yakin bahwa dia itu tau apa itu manusia dan
apa itu hewan ? kalau tidak tau apa itu hewan, bagaimana bisa membantah bahwa
manusia itu bukan hewan?
Kalaulah ibnu taimiyah masih hidup, maka tentu saya akan bertanya kepada beliau
“apa itu hewan?” tapi karena beliau sudah tidak ada, yang ada adalah anda dan
para pengagum belieu, maka hanya bisa tanya kepada anda, para pengagum beliau
dan orang yang setuju dengan bantahan beliau “apa itu hewan?” Jikalau tidak tau
jawaban dari pertanyaan tersebut, berarti dia telah membantah sesuatu yang
tidak dia fahami.
Mengatakan sesuatu seperti “anda tidak bisa memahami ini karena anda belum
mempraktikan sesuatu” dalam logika bisa merupakan sebuah fallacy. Tetapi sekali
lagi, fallacy tidak berarti salah. Jikalau orang mendiskusikan “dua batu, besar
dan kecil, bila dijatuhkan dari atas menara tinggi, manakah yang akan sampai ke
permukaan bumi terlebih dulu?” Tentu saja orang boleh berteori. Tapi ujung dari
teori itu, untuk memsatikan, ya perlu dipraktikan dengan benar-benar mencoba
menjatuhkan dua batu besar dan kecil dari atas menara. Itu namanya percobaan
ilmiah. Mengajak orang kepada praktik seperti itu berarti mengajak untuk
melakukan percobaan ilmiah, bukan fallacy. Seperti kata ibnu taimiyah “tinggal
mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke arah telinga” demikian cara untuk
memahami “konsep telinga”. Seperti itu pula untuk memahami kebenaran definisi
Aristoteles, coba praktikan terlebih dahulu dengan mendefinisikan “apa itu
hewan”.
Kutip
Kalaupun anda keberatan dengan perkembangan terbaru di atas, tetap saja fair
kalau kita katakan bahwa "cuma manusialah hwan yang bisa berfikir"
masih diperdebatkan dan karenanya "hewan yang berfikir" tidak bisa
digunakan untuk mendefinisikan manusia.
Sesuatu yang diperdebatkan bukanlah suatu faktor yang menyebabkan sesuatu itu
tidak bisa digunakan sebagai definisi. Ada 4 syarat agar sesuatu itu secarah
sah disebut definisi. Yang paling inti adalah jika luas lingkungan definiens
sama dengan luas lingkungan definiendum, maka ssuatu itu sah disebut definisi,
apakah ia diperdebatkan atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar