Laman

Minggu, 24 Juni 2012

Perangkat Untuk Menilai Kebenaran


Setiap penilaian terhadap suatu proposisi, apakah itu benar atau salah adalah dengan suatu perangkat penilaian. Tanpa perangkat itu, orang tidak akan dapat menilai benar tidaknya sesuatu. Perangkat tersebut tak lain adalah tolak ukur dari nilai kebenaran itu sendiri. 

“Setiap emas adalah logam”. Apakah proposisi ini benar atau salah? Dan dengan apa nilai benar atau salah tersebut lahir? Melalui pengamatan? Jika “ya”, maka pengamatan itulah yang dimaksud dengan perangkat penilaian. 

Tetapi perangkat yang dijadikan tolak ukur untuk menilai sesuatu itu adalah berbeda-beda bagi setiap orangnya. Ada yang menggunakan perangkat ilmiah, logika, dan ada juga yang menggunakan kitab suci sebagai pengkat penilaian sesuatu. Apapun perangkatnya, intinya semua menggunakan perangkat dan tidak bisa tidak menggunakan perangkat. Dan ketika yang dijadikan perangkat untuk menilai itu adalah pendapatnya sendiri, maka sebenarnya itu disebut penilaian tanpa suatu perangkat. 

“Setiap kayu adalah emas”. Menurut perangkat ilmiah, proposisi tersebut sudah jelas salahnya. Tetapi kalau hanya berlandaskan kepada pendapat bebas, bisa saja orang berpendapat bahwa hal itu benar. Pendapat yang tidak berdasar kepada suatu ilmu akan dapat memutar segala sesuatu menurut sekehendaknya sendiri, benar bisa dikatakan salah dan salah bisa dikatakan benar. Menggunakan perangkat penilaian berarti menggunakan ilmu dalam menilai benar salahnya sesuatu itu. 

Kini dapat kita fahami bahwa dalam menilai segala sesuatu itu ada yang menggunakan perangkat ilmu dan ada yang tidak menggunakan perangkat ilmu. Yang tidak menggunakan perangkat ilmu itu terbagi lagi ke pada berbagai jenis perangkat ilmu. Perbedaan jenis ilmu yang digunakan sebagai perangkat penilaian dapat melahirkan nilai yang berbeda. 

“kayu adalah emas”. Menurut perangkat ilmiah, atau perangkat empiris, pernyataan tersebut salah. Bertentangan dengan hasil dari penilaian logika bahwa hal itu benar bila saja kayu = 2 + 3 sedangkan emas = 5, maka 2+3 adalah 5. Nilai yang tempak bertentangan ini sebenarnya tidak bertentangan. Selama dapat difahami apa yang menjadi perangkat penilaiannya dan bagaimana penilaian itu dilakukan, maka semua perangkat ilmu yang benar akan melahirkan nilai yang sama-sama benar, walaupun kelihatannya berbeda atau bertentangan. 

Metoda ilmiah dan logika, itulah perangkat ilmu yang universal dan dimufakati oleh para ilmuwan sebagai tolak ukur untuk menilai benar tidaknya semua proposisi. Bagi kaum agamis, selain ilmiah dan logika, kitab suci dijadikan perangkat penilaian yang utama. Kebenaran pernyataan bahwa “bumi ini terdiri dari tujuh lapis” atau “neraka jahanam adalah neraka yang terdalam” tidak dapat dinilai oleh perangkat ilmiah. Tapi pengetahuan agama atau kitab suci dengan segera menyatakan bahwa hal itu memang benar atau salah. 

Ketika seseorang ditanya, “Bagaimana menurut Anda, apakah benar neraka jahanam itu merupakan neraka yang terdalam?” maka dengan perangkat apa dia hendak menyatakan bahwa hal itu benar atau hal itu salah? Dia dapat menjawab “Menurut kitab suci hal itu memang benar”. Maka bagaimana selanjutnya apabila ditanyakan kepadanya, “Apakah Anda yakin bahwa kitab suci itu benar?” kembali orang itu harus memikirkan “dengan perangkat apa dia harus menilai benar tidaknya kitab suci itu, sedangkan kitab suci itulah yang dia jadikan sebagai perangkat penilaian?

Jika menilai benar tidaknya sesuatu itu adalah dengan perangkat ilmu penilai, maka apakah pula yang menjdi perangkat untuk menilai perangkat itu. Perangkat menilai perangkat. Hal ini menjadi sesuatu yang tidak berujung. Jika a adalah b. dan jika b adalah c. maka menurut logika adalah benar bahwa a adalah c. ya benar menurut logika. Tapi nilai benar pada proposisi “Logika adalah benar” itu dengan perangkat apa pula? Dengan ilmiah? Maka pernyataan “Metoda ilmiah itu benar”, perangkat apa pula untuk dapat menilai hal tersebut? Perangkat di atas perangkat. Harus ada jalan keluar dari perputarakan yang tidak berujung ini. Jalan keluarnya adalah akal. 

Akal bukanlah pikiran yang bisa melahirkan pendapat bebas, benar bisa dikatkaan salah. Salah bisa dikatakan benar. Tapi akal adalah perangkat penilai dalam diri yang bisa mengetahui apakah sesuatu itu salah ataukah benar. Ketika dinyatakan bahwa “Setiap emas adalah logam”, maka akal dengan sendirinya dapat menilai bahwa hal tersebut benar. Secara empiris, setiap kali orang memegang emas, maka iapun melihat logam di tangannya, di mana logam itu tidak terpisahkan dari emas. Tetapi tidak setiap kali dia memegang logam, maka dia melihat emas pula di genggamannya itu. Dia dapat melihat secara langsung bahwa emas berada di dalam lingkungan golongan (species) logam. Ini adalah hal yang akal tidak memungkinkan untuk memungkirinya. 

Kesimpulannya, segala sesuatu dinilai dengan perangkat penilaian. Sedangkan kebenaran dari perangkat penilaian itu sendiri dinilai oleh akal. 

Sumber : A. Rochman, Kupas Logika, No.12378

Tidak ada komentar:

Posting Komentar